"Ah, terima kasih," kata-kata itu membuat air mata keluar.
Tanpa alasan khusus, air mata itu keluar.
Seringkali, dalam cerita semacam ini, ada orang yang menyebutkan "alasan," tetapi saya merasa bahwa "alasan tidak diperlukan" untuk rasa terima kasih.
Mereka menceritakan situasi pada saat itu karena ditanya tentang alasan, tetapi pada dasarnya, tidak ada alasan untuk rasa terima kasih.
Jika benar-benar harus menyebutkan alasan, kita harus berbicara tentang hal-hal spiritual, seperti "Sat Cit Ananda" dalam Vedanta, yang berarti keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan. Jika harus dikatakan, itu adalah alasan.
Jika harus dikatakan, karena keberadaan sebagai kesadaran memenuhi diri sendiri atau ruang di sekitar, sehingga menghasilkan kebahagiaan, dan karena kebahagiaan itu, rasa terima kasih muncul, dan pada saat yang sama, air mata juga keluar.
Hanya mengatakan bahwa air mata keluar karena rasa terima kasih adalah kurang tepat. Seharusnya, karena ada kebahagiaan yang meluap, rasa terima kasih muncul, dan karena itu, air mata keluar.
Jika itu diungkapkan secara metaforis, itu menjadi "Ah, terima kasih," dan pada saat yang sama, air mata juga keluar.
Hanya mengatakan "terima kasih" dan menangis saja tidak cukup, tetapi karena merasa terpenuhi, air mata keluar dan rasa terima kasih muncul secara alami. Itu adalah keadaan yang dijelaskan oleh "Sat Cit Ananda" dalam Vedanta.
Cerita semacam ini sering dibahas sebagai filsafat yoga, dan seringkali dibahas sebagai teori yang terpisah dari praktik. Namun, saya pikir ini adalah cerita yang sangat terkait dengan praktik yang sebenarnya.
Terkadang, hal serupa diceritakan sebagai cerita mistis yoga yang tidak realistis, seperti legenda. Namun, cerita semacam ini bukanlah fantasi yang jauh dari kenyataan, melainkan sesuatu yang sangat nyata, mendasar, dan benar-benar ada.
Jika diungkapkan dengan kata-kata, itu seperti "Sat Cit Ananda," tetapi meskipun dijelaskan seperti itu, orang cenderung mengabaikannya. Namun, bagi orang Jepang, rasa terima kasih adalah sesuatu yang dekat, jadi cerita seperti "Ah, terima kasih," yang membuat air mata keluar, lebih mudah dipahami secara intuitif daripada cerita yang terlalu teoritis.
Sebenarnya, cerita-cerita ini pada dasarnya mengatakan hal yang sama, tetapi karena cara penyampaiannya berbeda, terasa seperti sesuatu yang sangat berbeda, padahal sebenarnya sama.
Jika dijelaskan, mungkin bisa dikatakan seperti itu, tetapi menurut saya, rasa syukur yang sebenarnya adalah ketika seseorang merasa terpenuhi dan merasakan kebahagiaan yang mendalam sehingga sampai meneteskan air mata, dan berkata, "Ah, terima kasih."
Kita bisa merasa bersyukur tanpa alasan khusus. Jika kita mencoba menjelaskan alasan dasarnya, itu adalah Sat-Chit-Ananda, yaitu kebahagiaan yang berasal dari terpenuhinya keberadaan dan kesadaran.
Jika kita bisa merasakan kesadaran seperti ini dalam kehidupan sehari-hari, itu bagus, tetapi jika kita ingin melakukannya secara sistematis, itu disebut meditasi. Dengan merasakan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam, bahkan sampai meneteskan air mata, melalui meditasi, kita bisa merasakan bahwa keberadaan kita secara bertahap mendekati tingkat yang lebih tinggi.