Bhagavad Gita dapat membebaskan tidak hanya orang yang membacanya, tetapi juga orang lain.


<Kita akan melanjutkan membaca buku penjelasan tentang Bhagavad Gita.>

Gita lebih unggul daripada Gangga. Dalam kitab suci, dinyatakan bahwa pembebasan (Liberation, Moksha) adalah imbalan dari mandi di Sungai Gangga. Namun, seseorang yang mandi di Gangga hanya dapat membebaskan dirinya sendiri, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk membebaskan orang lain. Sebaliknya, seseorang yang menyelam ke dalam Gita tidak hanya membebaskan dirinya sendiri, tetapi juga memperoleh kekuatan untuk membebaskan orang lain. Gangga berasal dari kaki Tuhan, sedangkan Gita berasal langsung dari bibir Tuhan. Sekali lagi, Gangga membawa seseorang secara pribadi, dan orang tersebut menyelam ke dalam air untuk membebaskan dirinya sendiri, sedangkan Gita menemukan jalan bagi semua rumah tangga dan menunjukkan jalan menuju pembebasan bagi semua orang. Inilah alasan mengapa Gita dinyatakan lebih unggul daripada Gangga.

Gita lebih unggul daripada Gayatri (mantra). Melalui praktik melafalkan Gayatri (mantra), seseorang pasti akan mencapai pembebasan. Namun, orang yang mempraktikkan melafalkan Gayatri (mantra) hanya menjamin pembebasan (liberation, pembebasan) untuk dirinya sendiri. Di sisi lain, seorang siswa Gita membebaskan tidak hanya dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Ketika dia menjadi seperti Tuhan, yang merupakan pemberi pembebasan, maka pembebasan (mukti) menjadi hal yang sepele baginya. Itu akan berada di debu kakinya. Dia memberikan hadiah pembebasan (mukti) kepada siapa pun yang memintanya.

Mendeklarasikan bahwa Gita lebih besar dari Tuhan bukanlah sebuah hiperbola. Menurut Tuhan sendiri:
श्रयेऽहंतिष्ठामिगीतामेचोत्तमंगृहम।
2ाज्ञानमुपाश्र्ितत्रील्लोकान्पालयाम्यहम्। (Baraha Purana)
"Saya memperjelas sikap saya terhadap Gita. Gita adalah tempat tinggal terbaik saya. Dengan kekuatan kebijaksanaan yang terkandung dalam Gita, saya memelihara tiga dunia."

Selain itu, dalam Bhagavad Gita itu sendiri, dinyatakan secara terbuka bahwa mereka yang mengikuti instruksi-Nya (Tuhan) yang terkandung dalam bentuk Gita pasti akan mencapai pembebasan. Selain itu, Tuhan mengatakan bahwa bahkan mereka yang mempelajari kitab suci ini akan menyembah-Nya melalui pengabdian. Jika hanya dengan mempelajari Bhagavad Gita saja sudah memberikan nilai seperti itu, bagaimana kita harus menggambarkan mereka yang mengikuti ajaran-ajarannya, membentuk kehidupan mereka sesuai dengan itu, membimbing para pengikut Tuhan menuju rahasia itu, dan menyebarkan ajaran-ajaran itu di antara mereka? Tuhan merujuk pada orang seperti itu, dan mengatakan bahwa orang itu sangat menyayangi-Nya. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang itu lebih dekat kepada Tuhan daripada kepada kehidupan-Nya sendiri. Tuhan menempatkan diri-Nya di bawah kehendak orang yang beriman seperti itu. Bahkan dalam kasus jiwa-jiwa yang mulia, terlihat bahwa mereka yang mengikuti ajaran-ajaran-Nya lebih berharga bagi mereka daripada kehidupan mereka sendiri. Bhagavad Gita mengandung ajaran-ajaran mistis Tuhan. Jadi, apakah pantas bagi mereka yang mengikuti ajaran-ajaran ini untuk lebih dekat kepada Tuhan daripada kepada kehidupan Tuhan itu sendiri?

Bhagavad Gita adalah manifestasi dari nafas, hati, dan gambaran kata-kata Tuhan.
Seseorang yang memiliki hati, kata-kata, tubuh, dan semua indera serta fungsinya yang selaras dengan Bhagavad Gita, dapat dikatakan sebagai perwujudan dari Bhagavad Gita. Mereka yang mengikuti penglihatannya, sentuhannya, ucapannya, pemikirannya, serta ajaran dan teladannya, tentu saja memberikan penghormatan tertinggi kepada orang lain. Pada kenyataannya, pengorbanan, amal, kesederhanaan, ziarah, sumpah agama, pengendalian diri, dan puasa tidak sebanding dengan Bhagavad Gita.
Bhagavad Gita mengandung kata-kata yang langsung diucapkan dari bibir Tuhan, Bhagavan Krishna. Editornya adalah Maharshi Vyasa. Tuhan menyampaikan sebagian dari perkataannya dalam bentuk ayat. Editor Vyasa mencatatnya sebagaimana diucapkan dari bibirnya. Bagian yang disampaikan dalam bentuk prosa dipahami oleh editor, dan perkataan Arjuna, Sanjaya, dan Durtarashtra dipahami dalam kata-kata editor sendiri. Editor membagi buku yang terdiri dari 700 ayat menjadi 18 bab, dan menjadikannya bagian integral dari Mahabharata. Inilah penjelasan tentang bagaimana buku ini sampai kepada kita.


Komentar:
Ada bagian yang sulit dibaca karena kata ganti (His) bisa berarti "orang" atau "subjek". Bagian yang menggunakan huruf kapital seperti "His" dalam teks asli, terkadang berarti "subjek", tetapi di tempat lain bisa berarti "orang". Oleh karena itu, kita tidak hanya perlu memperhatikan apakah ada huruf kapital atau tidak sebagai petunjuk, tetapi juga harus memeriksa artinya setiap kali. Dalam literatur berbahasa Inggris yang bersifat spiritual, kata "Self" sering digunakan dengan huruf kapital untuk merujuk pada "Higher Self" atau "subjek", sehingga lebih mudah dipahami. Namun, dalam dokumen ini, penulisannya tidak selalu konsisten.



バガヴァッド・ギーターの趣旨(Artikel berikutnya.)