Yoga didasarkan pada filsafat Samkhya, dan dalam terminologi tersebut, pikiran disebut sebagai Citta.
Jiwa disebut sebagai Purusha. Dalam Yoga, "diri" adalah Purusha, dan bukan tubuh atau pikiran (Citta).
"Gelombang pikiran" yang muncul dalam Citta (pikiran) disebut Vrttis. Kata ini berasal dari kata "pusaran."
Sebagai analogi, danau adalah Citta (pikiran), dan ombak adalah Vrttis.
Tujuan dan fungsi Yoga dapat diringkas dalam dua kalimat berikut:
"Menghentikan fungsi (kerja, keadaan) pikiran adalah Yoga" (Yoga, Citta, Vritti, Nirodhah).
"Pada saat itu, pengamat akan tetap dalam keadaan aslinya" (Tada, Drastuh, Svarupe, Vasthanam).
"Yoga Sutra" yang ditulis oleh Patanjali menjelaskan kedua kalimat ini.
Pikiran (Citta) memiliki tiga keadaan yang disebut Gunas:
- Tamas: Keadaan kegelapan. Hewan atau orang bodoh. Inersia.
- Rajas: Aktivitas. Keadaan aktif.
- Sattva: Ketenangan. Kelembutan. Kebijaksanaan.
Tidak hanya pikiran, tetapi alam dan seluruh alam semesta terdiri dari ketiga keadaan ini. Materi sebelum pikiran, alam, dan alam semesta memiliki tiga keadaan disebut Avyakta (sesuatu yang tidak terdefinisi. Sesuatu yang belum terpisah). Yang terbaik yang terdiri dari ketiga materi ini disebut Mahat (Intelijen, Kecerdasan Kosmik), dan kecerdasan manusia adalah sebagian dari itu, yang disebut Buddhi (Kesadaran).
Manas (Pikiran) mengumpulkan kesan dan membawanya ke Buddhi (Kesadaran). Kemudian, Buddhi (Kesadaran) menentukan apa itu.
Egoisme (Ahamkara) lahir melalui Buddhi (kemampuan untuk menentukan). Jika Buddhi (kemampuan untuk menentukan) adalah "gerakan," maka Ahamkara (ego) adalah "reaksi."
Komponen-komponen pikiran (Citta):
- Buddhi (Kesadaran)
- Ahamkara (Egoisme)
- Manas (Pikiran)
Persepsi terjadi dalam urutan berikut:
1. Sinyal dari dunia luar dibawa melalui organ indera (mata atau telinga) ke "organ" (Indriyas) di otak.
2. "Organ" (Indriyas) di otak menyampaikan sinyal-sinyal tersebut ke pikiran (Citta).
3. Dalam pikiran (Citta), Manas (Pikiran) membawa kesan ke Buddhi (Kesadaran), dan kesan tersebut ditentukan.
4. Egoisme (Ahamkara) lahir sebagai respons dari Buddhi (Kesadaran).
5. Campuran ini disalurkan ke Purusha, dan objek dikenali.
Kelompok yang disebut "alat-alat internal" (antakarana):
・Indriya (organ-organ indera)
・Manas (pikiran)
・Buddhi (kemampuan untuk menentukan)
・Egoisme (ahamkara)
Ini adalah berbagai proses yang terjadi di dalam pikiran (citta).
"Pikiran" (citta) menggunakan energi yang diperoleh melalui makanan dan melepaskannya sebagai "pemikiran" (vrtti). Oleh karena itu, pikiran (citta) bukanlah entitas yang cerdas. Namun, pikiran (citta) tampak cerdas karena ada Purusha (jiwa) di baliknya.
Tiga bukti:
1. Persepsi langsung, Pratyaksa. Hal-hal yang jelas melalui penglihatan dan perasaan. Misalnya, keberadaan dunia.
2. Penalaran, Anumana.
3. Persepsi oleh para yogi yang telah mencapai pencerahan, Aptava. Pengetahuan Aptava berasal dari diri individu itu sendiri. Secara harfiah, "yang telah dicapai".
Berbagai jenis vrtti (gelombang pikiran):
・Vikara. Kebingungan kata-kata. Pemikiran yang tidak benar. Pikiran (citta) menjadi bingung jika lemah.
・Mimpi. Gelombang pikiran (vrtti) saat tidur menjadi mimpi.
・Memori, Smrtih. Memori adalah ketika gelombang pikiran (vrtti) dari subjek kembali ke kesadaran melalui pemicu seperti kata-kata.
Setelah vrtti (gelombang pikiran) menghilang, yang tersisa adalah kesan (samskara).
Kesan (samskara) adalah pikiran yang tersembunyi dalam alam bawah sadar.
Ketika ada banyak kesan (samskara), itu menjadi kebiasaan dan membentuk kepribadian.
Upaya untuk menjaga keadaan di mana vrtti (gelombang pikiran) ditekan sepenuhnya disebut "latihan".
Keadaan yang ditekan disebut Vairagya (ketidakpedulian).
Mencegah pikiran (citta) dikendalikan oleh vrtti (gelombang pikiran) adalah Vairagya. Ini juga disebut ketidakmelekatkan.
Ketika Vairagya tercapai, sifat Purusha (jiwa, diri sejati) mulai muncul.
Pikiran (citta) terbuat dari Sattva, tetapi tertutup oleh Rajas dan Tamas. Penutup ini dapat dihilangkan melalui Pranayama. Dengan begitu, Manas (pikiran) dapat menjadi lebih fokus. Fokus ini disebut Dharana.
Untuk mencapai konsentrasi (Dharana), diperlukan juga Pratayahara.
Pratayahara adalah kemampuan untuk menempatkan dan melepaskan pikiran (Citta) ke dan dari pusat saraf sesuai keinginan. Secara harfiah, berarti "mengumpulkan (ke arah) diri sendiri".
Ketika konsentrasi (Dharana) tercapai, konsep waktu menghilang.
Oleh karena itu, ketika masa lalu dan masa kini menjadi satu, dikatakan bahwa pikiran tersebut sedang dalam keadaan konsentrasi (Dharana).
Melanjutkan konsentrasi (Dharana) adalah meditasi (Dhyanam).
Meditasi (Dhyanam) yang semakin mendalam, di mana bentuk objek meditasi menghilang dan hanya kesadaran akan makna yang tersisa, disebut Samadhi.
Samadhi dibagi menjadi dua.
1. Samprajnatah. Memperoleh kekuatan untuk mengendalikan alam. Disebut "Samadhi dengan benih". Samadhi yang masih meninggalkan benih yang menghasilkan reinkarnasi.
2. Asamprajnatah. Samadhi yang memberikan pembebasan. Disebut "Samadhi tanpa benih". Samadhi yang menghilangkan benih yang menghasilkan reinkarnasi.
■ Meditasi dan Samprajnata Samadhi
Pada tahap ini, kesan (Samskara, Sanskara, tindakan) masih ada, dan pikiran belum sepenuhnya dimurnikan.
1. Savitarka Meditasi. Savitarka berarti "dengan pertanyaan". Meskipun memperoleh kekuatan, tidak akan mencapai pembebasan. Samadhi yang duniawi, mengejar kesenangan, sia-sia. Ajaran lama. Jabda (kata) dan Arta (objek, makna suara) dan Jnyana (pengetahuan) terjadi secara bersamaan.
2. Nirvitarka Meditasi. Berarti "tanpa pertanyaan". Meditasi yang memproyeksikan elemen di luar waktu dan ruang, dan merenungkan apa adanya. Jabda (kata) dan Arta (objek, makna suara) tidak ada, hanya ada Jnyana (pengetahuan).
3. Savichara Meditasi. Berarti "dengan pemahaman". Meditasi yang merenungkan sesuatu sebagai bagian dari waktu dan kesadaran.
4. Nirvichara Meditasi. Berarti "tanpa pemahaman". Perkembangan dari Savichara. Meditasi yang menghilangkan waktu dan ruang, dan merenungkan elemen-elemen halus apa adanya.
Kedua hal di atas adalah perubahan objek dari tahap sebelumnya, yaitu Savitarka Meditasi dan Nirvitarka Meditasi, menjadi elemen-elemen halus (Tammatra = partikel halus, Citta, ego).
Ketika Nirvichara Meditasi terhubung dengan kemurnian, kebijaksanaan yang penuh dengan kebenaran (Ritambhara Prajna) diperoleh. Orang yang mencapai tahap ini disebut sebagai orang suci yang tercerahkan (Jivanmukta, Jivant adalah makhluk hidup, Mukta berarti dibebaskan).
5. Sananda Samadhi. Samadhi yang penuh dengan kebahagiaan. Meditasi yang dilakukan dalam keadaan menghilangkan aktivitas dan inersia.
6. Sasmitar Samadhi. Keadaan di mana seseorang dapat merasakan "kehilangan tubuh". Jiwa yang menyatu secara alami dalam keadaan ini disebut Prakriyala, tetapi ini belum merupakan pembebasan.
■Meditasi untuk Asamprajnata Samadhi yang Memberikan Pembebasan
Segera setelah pikiran muncul, hilangkan pikiran tersebut, dan jangan biarkan pikiran apa pun masuk ke dalam pikiran, sehingga membuat pikiran menjadi dalam keadaan kosong. Ini menunjukkan kendali tertinggi atas pikiran.
(Berhati-hatilah agar meditasi yang salah tidak menutupi pikiran dengan Tamas. Tamas adalah ketidaktahuan, dan jangan salah mengira bahwa Anda mengosongkan pikiran dengan membuatnya tidak aktif.)
Dalam meditasi sebelum Asamprajnata, pikiran menekan Vrtti (gelombang pikiran) melalui konsentrasi.
Di sisi lain, ketika mencapai Asamprajnata, "benih" yang menciptakan Vrtti (gelombang pikiran) menghilang. Ini disebut "menjadi tanpa benih." Benih yang menghasilkan reinkarnasi yang tampaknya tak terbatas menghilang.
■Klasifikasi menjadi Samadhi dengan Benih dan Tanpa Benih
Sabija Samadhi: Samadhi dengan benih. Samprajnata Samadhi, Savikalpa Samadhi.
Nirbija Samadhi: Samadhi tanpa benih. Asamprajnata Samadhi, Nirvikalpa Samadhi.
■Samyamah
Ketika konsentrasi (Dharana), meditasi (Dhyanam), dan Samadhi tercapai secara bersamaan, itu disebut Samyamah. Melalui Samyamah, Siddhi (kemampuan spiritual) muncul. Dengan memasuki kedalaman objek atau konsep yang menjadi objek, objek tersebut mengungkapkan rahasianya.
■Dharma Meghah Samadhi (Samadhi Awan Dharma)
Dharma Meghah: Artinya, semua kualitas baik ada di sana.
Ini adalah Samadhi yang terjadi ketika bahkan keinginan untuk "mencapai sesuatu" pun hilang.
Keinginan untuk mencari Tuhan tercapai melalui "ketidakberpihakan." Sampai pada titik tertentu, seseorang terus berusaha, tetapi pada titik ini, usaha berhenti dan menjadi tanpa usaha. Kemudian, seseorang mengenal Tuhan. Seorang Jivanmukta (orang suci yang tercerahkan) muncul.
Semua penderitaan (kekhawatiran) dan Karma (tindakan) berakhir.
■Nirbija Samadhi
Dalam "Integral Yoga" (karya Swami Sachidananda), ini dianggap sebagai Samadhi tertinggi yang datang setelah Jivanmukta (orang suci yang tercerahkan), dan Asamprajnata Samadhi hanya disebutkan secara singkat.
Di sisi lain, dalam "Raja Yoga" (karya Swami Vivekananda), ini tampaknya merupakan deskripsi dari keadaan akhir yang umum. Penulisannya kurang jelas, dan tidak secara eksplisit menyatakan bahwa ini adalah yang tertinggi, dan sebelumnya, Asamprajnata Samadhi diperkenalkan sebagai yang membawa pembebasan akhir.
Oleh karena itu, hubungan antara Nirbija Samadhi, Asamprajnata Samadhi, dan Samadhi lainnya seperti Sananda Samadhi atau Sasmitar Samadhi tidak jelas.
■ Karma Arsha (Kantong Karma)
Semua karma, termasuk kehidupan lampau, disimpan di dalamnya.
■ Tiga Jenis Karma
・Prarabdha Karma (Karma Kehidupan)
Karma yang diambil dari Karma Arsha (kantong karma) yang akan dialami dalam kehidupan ini. Karma ini menjadi dasar untuk memilih tubuh.
Alasan di balik kejadian yang tidak terduga. Misalnya, tidak sengaja tertabrak batu dan terluka.
・Sanjita Karma
Jumlah total dari semua karma, termasuk karma di masa lalu.
・Agami Karma
Karma baru. Tindakan yang dilakukan dengan sengaja dan mengetahui konsekuensinya. Misalnya, sengaja menendang batu dan melukai jari kaki.
Orang yang mencapai Jeevanmukta (orang suci/yang tercerahkan) tidak terpengaruh oleh Agami Karma.
■ Dewa
Banyak jiwa yang hampir mencapai kesempurnaan tetapi gagal melepaskan semua kekuatannya disebut "Dewa".
Filsafat Sanatana menyatakan bahwa tidak ada Tuhan yang mutlak dan tunggal. Meskipun ada beberapa Yogi yang percaya pada keberadaan Tuhan yang mutlak, mereka juga menyebut banyak jiwa yang gagal tersebut sebagai Dewa.
Jiwa yang tidak menginginkan status sebagai Dewa atau penguasa siklus waktu akan mencapai pembebasan.
■ Penguasa Tertinggi
Ishvara (Penguasa Tertinggi) adalah jiwa yang istimewa yang memiliki pengetahuan tak terbatas. Menurut Veda, Ishvara adalah pencipta alam semesta.
Namun, bagi para Yogi, Ishvara bukanlah pencipta alam semesta, melainkan pengetahuan tak terbatas yang maha tahu dan maha kuasa yang disebut sebagai Tuhan.
■ Pencerahan
"Pencerahan" adalah agama sejati, dan semua yang lain hanyalah persiapan.
Mendengarkan ceramah, membaca buku, atau mengikuti logika hanyalah persiapan dasar, bukan agama.
■ Egoisme
Egoisme adalah menganggap alat yang melihat sebagai yang melihat. Ini adalah keadaan "ketidaktahuan".
Yang melihat adalah Purusha (jiwa), dan alat yang melihat adalah pikiran (Chitta) atau organ indera (Indriya).
Egoisme muncul ketika seseorang salah mengira pikiran (Chitta) atau organ indera (Indriya) sebagai dirinya sendiri.
Tidak ada yang dapat menyakiti Purusha (jiwa). Purusha (jiwa) berada di luar pemahaman pikiran (Chitta), dan pikiran (Chitta) akan merasa sedih atau bahagia, tetapi Purusha (jiwa) tetap ada. Namun, karena ketidaktahuan, kita mengira bahwa kita adalah pikiran (Chitta), dan kita "merasakan kesenangan dan penderitaan".
■ Diskusi dan Kesimpulan
・Hal-hal yang diperdebatkan (Vada)
・Hal-hal yang telah diputuskan (Siddhanta)
Awalnya, kita memulai dengan diskusi (Vada). Namun, setelah mencapai kesimpulan, kita masuk ke Siddhanta (Siddhanta) dan memperkuatnya. Para Yogi telah melewati tahap diskusi. Para Yogi menginginkan sesuatu yang melampaui pikiran (Chitta), jadi mereka tidak melakukan diskusi (Vada).
■ Pembongkaran dan Pengendalian Kesan (Samskara, Sanskara, Karma)
Setelah gelombang pikiran (Vrttis) mereda, yang tersisa adalah kesan (Samskara, Sanskara, Karma). Kesan (Samskara, Sanskara, Karma) tertidur di dalam pikiran (Chitta, Citta). Kesan (Samskara, Sanskara, Karma) adalah akar dan penyebab. Kesan (Samskara, Sanskara, Karma) juga perlu dibongkar dan dikendalikan sepenuhnya.
Pengenalan terhadap pikiran (Chitta, Citta) dan gelombang pikiran (Vrttis) relatif mudah. Namun, kesan (Samskara, Sanskara, Karma) tertidur dalam dan bekerja di tingkat bawah sebagai alam bawah sadar.
Dengan mengendalikan akarnya sebelum gelombang pikiran (Vrttis) muncul secara kasar, kita dapat mengendalikan benih kesan (Samskara, Sanskara, Karma) dan menghancurkannya.
Kesan (Samskara, Sanskara, Karma) yang halus tidak dapat dihancurkan hanya dengan meditasi. Kesan (Samskara, Sanskara, Karma) dibongkar menjadi penyebabnya, dan ketika penyebabnya, yaitu asmita/egoisme, dibongkar, kesan (Samskara, Sanskara, Karma) akan hilang bersamanya.
Pertama, kita bermeditasi tentang kesan (Samskara, Sanskara, Karma) untuk membawanya ke permukaan. Di sana, kita dapat memutuskan apakah akan mengekspresikannya sebagai tindakan atau tidak (tentu saja, kita akan memilih untuk tidak mengekspresikannya sebagai tindakan). Kemudian, kita melanjutkan meditasi untuk melacaknya kembali ke penyebabnya, dan kita akan menemukan bahwa asmita/egoisme berada di sana. Dengan melampaui pikiran ke dalam Samadhi yang lebih tinggi, asmita/egoisme itu akan hilang. Ketika asmita/egoisme hilang, semua kesan (Samskara, Sanskara, Karma) di dalamnya juga akan hilang.
■ Partikel-partikel Tamma (Tamas) yang Halus
Yang terus-menerus dipancarkan oleh pikiran kita setiap hari. Tempat-tempat di mana orang menyembah Tuhan dipenuhi dengan Tamma yang baik.
■ Empat Tahap (Parvani) dari Guna (Sifat, Guna = Sattva/Rajas/Tamas, sattva/tamas/rajas)
・ "Yang memiliki definisi (visesa)": Elemen-elemen kasar yang dapat kita rasakan.
・ "Yang tidak memiliki definisi (avisesa)": Tamma.
・ "Yang hanya mengisyaratkan (linga-matra)": Buddhi (kemampuan untuk menentukan, Buddhi, kecerdasan). Manifestasi pertama alam.
・ "Yang tidak memiliki tanda (alingani)":
■プルシャ (Jiwa)
Mahatahu, mahakuasa, ada di mana-mana. Bukanlah pikiran. Bukan pula materi. Karena bukan bagian dari alam, maka ia tidak berubah.
■Prakriti
Substansi dasar yang menyusun dunia ini. Prakriti adalah prinsip materi, berlawanan dengan prinsip spiritual murni yang disebut Pulsha.
Pulsha adalah "yang melihat," sementara segala sesuatu selain Pulsha adalah Prakriti, dan "yang terlihat."
■Sinonim Pulsha
Dalam filsafat Sankhya, kata Pulsha digunakan, tetapi dalam Vedanta, muncul kata-kata Brahman dan Atman.
・Filsafat Sankhya: Pulsha ada di dalam setiap individu, dan pada saat yang sama ada di mana-mana. Ishvara (penguasa tertinggi) juga merupakan salah satu dari Pulsha.
・Vedanta: Brahman adalah keberadaan absolut yang ada di mana-mana. Atman adalah jiwa individu. Namun, dalam Vedanta, pada akhirnya, Brahman dan Atman dianggap sama.
Jadi, meskipun kata-katanya berbeda, tampaknya menjelaskan hal yang serupa.
■Chitta (Pikiran) dan Pulsha (Jiwa)
Chitta (pikiran) melihat dunia luar sebagai subjek. Atau, Chitta menjadi objek yang dilihat oleh Pulsha (jiwa).
Pulsha (jiwa) selalu menjadi subjek.
"Diri" adalah, dalam arti tertentu, seorang saksi, dan dalam arti lain, seorang pelaku, tetapi sebenarnya adalah seorang saksi. Jika Anda kehilangan "kebenaran," Anda menjadi seorang pelaku.
■Praktik Yoga dan Chitta (Pikiran)
Praktik yoga dilakukan oleh "Chitta (pikiran)." Pulsha (jiwa) tidak memerlukan praktik yoga. Pulsha harus dibiarkan begitu adanya. Yang membutuhkan praktik yoga adalah ego (diri). Ajaran diberikan kepada ego (diri).
Jika Anda membebaskan diri Anda yang lebih rendah, yaitu Chitta (pikiran), dari tindakan ego, maka cahaya Pulsha (jiwa) akan semakin bersinar dan Anda dapat "bersantai."
Semakin banyak relaksasi yang Anda miliki, Anda dapat bersantai, tidak hanya ketika Chitta (pikiran) tidak bergerak, tetapi bahkan ketika Chitta (pikiran) bergerak. Seorang yogi "menikmati" tindakan.
Kitab suci adalah untuk pemahaman dan pengetahuan. Kebenaran untuk ego ada dalam kehidupan sehari-hari. Belajarlah untuk menjadi tanpa pamrih dan menjalani kehidupan yang berdedikasi. Tindakan dilakukan untuk orang lain, sehingga Chitta (pikiran) dapat mencapai ketenangan.
■Jivanmukta (Orang Suci/Pembebas) dan Guna (Sifat, Guna = Sattva/Raja/Tama, sattva/tamas/rajas)
Ketika seseorang menjadi Jivanmukta (orang suci/pembebas), Guna menyelesaikan tujuannya dan berhenti berfungsi.
Sebelumnya, tujuan Guna adalah untuk memberikan pengalaman kepada Pulsha. Tujuan itu hilang, dan Guna kembali ke Prakriti aslinya. Ketika Guna tidak termanifestasi, ia tetap menjadi Prakriti. Ketika Prakriti termanifestasi, ia disebut Guna. Ketika manifestasi itu berakhir, Prakriti tetap menjadi Prakriti dan beristirahat. Sepenuhnya dimurnikan, "kekuatan kesadaran murni beristirahat dalam sifat aslinya yang murni."
Di sini, tujuan yoga yang pertama kali disebutkan oleh Patanjali tercapai. "Penghentian fluktuasi pikiran (Chitta-Vritti-Nirodhah)" adalah praktik, dan "bentuk sejati (Svarupe) dan keberadaan (Vasthanam)" dialami.
"Penghentian aktivitas pikiran (Yoga, Chitta, Vritti, Nirodhah)."
"Pada saat itu, pengamat akan tetap dalam keadaan aslinya (Tada, Drastuh, Svarupe, Vasthanam)."
Di atas,
dari
"Raja Yoga" (karya Swami Vivekananda)
"Integral Yoga" (karya Swami Sachidananda)