<Mari kita lanjutkan membaca buku penjelasan tentang Bhagavad Gita.>
Oleh karena itu, penelitian yang cermat tentang topik ini mengungkapkan bahwa tujuan utama Bhagavad Gita adalah untuk membimbing jiwa (manusia duniawi) yang telah terintegrasi ke dalam lautan keberadaan duniawi karena ketidaktahuan yang berasal dari keabadian, menuju realisasi Tuhan. Dan dengan mempertimbangkan tujuan ini, Bhagavad Gita menetapkan cara-cara untuk mencapai realisasi Tuhan sambil tetap menjalankan kewajiban duniawi sehari-hari. Seni luar biasa untuk menerapkan kebenaran spiritual ke dalam kehidupan nyata ini, dijelaskan dalam Bhagavad Gita. Bhagavad Gita menetapkan dua jalan untuk mencapai realisasi Tuhan yang sesuai dengan sifat dan kualifikasi seorang sadhaka (orang yang melakukan praktik spiritual). Kedua jalan ini adalah: (1) Jalan Pengetahuan (Sānkhyayoga), dan (2) Jalan Karma Yoga (III.3).
Di sini, perlu dicatat bahwa hampir semua kitab suci menyebutkan tiga cara utama untuk mencapai Tuhan, yaitu (1) tindakan, (2) ibadah, (3) pengetahuan. Lalu, bagaimana Bhagavad Gita hanya berbicara tentang dua jalan? Apakah ini dianggap sebagai kepercayaan sesat? Namun, banyak murid Bhagavad Gita memahami ajarannya sebagai yang sangat menekankan pada pengabdian. Selain itu, Sang Bhagava sendiri di beberapa tempat dengan jelas menyoroti kemuliaan khusus dari pengabdian (VI.47), dan menyatakan bahwa realisasi (pencerahan) bagi seseorang lebih mudah dicapai melalui pengabdian (VIII.14). Jawaban kami untuk pertanyaan ini adalah bahwa fakta bahwa "upāsana" (penghormatan) disebutkan dalam kitab suci bersama dengan tindakan dan pengetahuan, berarti bahwa hal itu tercakup dalam dua jalan di atas. Ketika seseorang menghormati Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhan menyatu dengannya, penghormatan tersebut termasuk dalam jalan pengetahuan (Sānkhyanişthā). Dan ketika hal itu dilakukan dari sudut pandang keragaman, hal itu termasuk dalam jalan tindakan (Yoganişthā). Inilah perbedaan utama antara Sānkhyanişthā (jalan pengetahuan) dan Yoganişthā (jalan tindakan). Demikian pula, ayat 24 dari Bab XIII berbicara tentang realisasi Tuhan hanya melalui praktik meditasi. Namun, perlu dipahami bahwa meditasi yang dipraktikkan dari sudut pandang kesatuan dengan Tuhan termasuk dalam Sānkhyanişthā (jalan pengetahuan), sedangkan meditasi yang dipraktikkan dari sudut pandang keragaman termasuk dalam Yoganişthā (jalan tindakan). Keyakinan umum bahwa pengabdian adalah sarana utama untuk mencapai Tuhan dalam Bhagavad Gita juga benar. Pengabdian diberikan tempat yang sangat tinggi dalam Bhagavad Gita, dan di beberapa tempat, instruksi yang jelas diberikan kepada Arjuna untuk mengembangkan pengabdian (IX.34; XII.8; XVIII.57, 65, 66). Meskipun demikian, Bhagavad Gita hanya mempertahankan dua jalan. Menurutnya, pengabdian merupakan bagian dari disiplin Yoga. Dan karena pengabdian terkait dengan tindakan, tidak dapat dikatakan bahwa pandangan di atas, yang didukung oleh Bhagavad Gita, sepenuhnya bertentangan dengan logika. Bagaimana pengabdian terhubung dengan disiplin Yoga akan dibahas lebih lanjut di bagian akhir dari diskusi ini.
Selain itu, dalam Bhagavad Gita, terdapat dua kata, "Jñāna" dan "Karma," yang memiliki makna khusus dalam berbagai konteks. Dalam Bhagavad Gita, "Karma" dan Karmayoga, serta "Jñāna" dan Jñānayoga, tidaklah sama. Menurut Bhagavad Gita, tindakan yang ditetapkan dalam kitab suci dapat dilakukan dari sudut pandang pengetahuan dan yoga. Bahkan jalan pengetahuan pun tidak menentang tindakan tersebut. Dalam jalan yoga, hanya pelaksanaan tindakan yang dianggap sebagai sadhana (latihan spiritual) (VI.3), sementara pengabaian tindakan yang sebenarnya dianggap sebagai hambatan (III.4), ayat II.47-51, ayat III.19, dan ayat IV.42. Arjuna diperintahkan untuk bertindak sesuai dengan jalan yoga. Di sisi lain, dalam ayat III.28 dan V.8, 9, 13, Tuhan menjelaskan cara melaksanakan tindakan dari sudut pandang jalan pengetahuan. Tidak ada ruang untuk memilih salah satu dari kedua jalan tersebut semata-mata karena rasa ingin tahu. Sebaliknya, Tuhan berbicara kepada mereka yang memiliki kecerdasan yang halus dan motif yang sensitif (II.42-44 dan 49; VII.20-23; IX.20-21, 23-24).
Kata "Jñäna" hanya digunakan dalam Bhagavad Gita dalam arti Jñänayoga, yaitu jalan pengetahuan. Namun, kata ini juga berarti realisasi diri. Ini adalah puncak dari semua praktik spiritual, puncak dari jalan pengetahuan dan yoga, dan juga disebut sebagai pengetahuan sejati atau realisasi kebenaran. Ayat 24 dan 25 bagian kedua dari Bab IV berbicara tentang Jñänayoga, tetapi ayat 36 hingga 39 dari bab yang sama merujuk pada "Jñäna," yaitu realisasi diri, yang merupakan puncak dari semua praktik spiritual. Dengan demikian, di tempat lain, kata tersebut harus ditafsirkan sesuai dengan konteks kalimat di mana kata tersebut digunakan.
Di sini, saya akan menjelaskan secara singkat tentang sifat-sifat penting dan perbedaan utama antara jalan pengetahuan (Jnana Yoga) dan jalan yoga, serta tentang cabang-cabang dari kedua jalan tersebut, tentang kualitas yang harus dimiliki oleh orang-orang yang mengikuti kedua jalan tersebut, dan tentang bagaimana kedua jalan tersebut, meskipun independen, saling bergantung.
Komentar:
Jñäna, tergantung pada aliran, bisa dibaca sebagai "nyaana" atau "gyaana," tetapi di sini saya menyesuaikannya dengan aliran tempat saya belajar.