Saat bermeditasi, terkadang kesadaran (atau aura, atau prana, energi) terkumpul di sahasrara sejak awal, tetapi terkadang diperlukan sedikit meditasi untuk meningkatkan kesadaran (aura). Dalam kedua kasus tersebut, jika sahasrara menjadi dominan, kesadaran sudah cukup tenang dan berada dalam keadaan damai, sehingga seseorang dapat merasakan kebahagiaan. Namun, jika ditambahkan dengan lebih menenangkan kesadaran, dan mencapai keadaan tanpa pikiran dan tanpa keinginan, sepertinya kesadaran diri yang lebih tinggi mulai terbangun.
Yang dimaksud dengan "tanpa pikiran dan tanpa keinginan" di sini adalah pikiran (mind) dari kesadaran yang biasa, yang dalam yoga disebut sebagai citta. Ketika getaran (vritti) citta yang mengatur kesadaran dan ingatan menjadi tenang dan rata, sederhananya bisa dikatakan "pikiran yang berantakan mereda," tetapi bukan hanya pikiran yang berantakan, bahkan pikiran yang disengaja juga harus dihentikan. Ketika itu terjadi, sepertinya kesadaran diri yang lebih tinggi mulai muncul secara bertahap.
Pada kenyataannya, apakah seseorang mencapai keadaan tanpa pikiran dan tanpa keinginan atau tidak, kesadaran diri yang lebih tinggi tetap ada, tetapi jika seseorang belum terbiasa, sulit untuk membedakan antara kesadaran diri yang biasa (mind) dan kesadaran diri yang lebih tinggi, atau keduanya mungkin bercampur. Oleh karena itu, sebenarnya tidak harus dalam keadaan tanpa pikiran dan tanpa keinginan untuk membangkitkan kesadaran diri yang lebih tinggi, tetapi sebagai cara, dengan sementara menekan pikiran (citta), seseorang dapat merasakan bagian mana yang merupakan kesadaran diri yang lebih tinggi. Pikiran (citta) memiliki sifat bergerak, sehingga sulit untuk menghentikannya secara permanen, karena itu adalah sifatnya dan tidak dapat diubah, tetapi dengan sementara menenangkannya, seseorang dapat menjadi lebih sadar akan kesadaran yang lebih tinggi.
Ini adalah hal yang disebutkan dalam Yoga Sutra, bahwa menenangkan citta (pikiran, mind, ingatan) dianggap sebagai penyelesaian (yoga). Itu juga berarti membangkitkan kesadaran diri yang lebih tinggi (atau Atman). Kesadaran diri yang lebih tinggi itu ada secara universal, abadi, dan penuh, tetapi karena bersifat universal, ia sudah ada sejak awal, tetapi seseorang (kesadaran) hanya belum menyadarinya. Keadaan tanpa pikiran dan tanpa keinginan (penekanan sementara pikiran) adalah salah satu cara untuk menjadi sadar akan hal itu.
■ Memenangkan Diri Sejati dengan Mengeluarkan Napas Secara Tenang
Salah satu metode yang relatif mudah dilakukan akhir-akhir ini adalah dengan menghembuskan napas secara perlahan dan tenang. Namun, sebenarnya hanya menghembuskan napas secara perlahan dan tenang saja tidaklah cukup. Sebagai prasyaratnya, seseorang harus berada dalam kondisi di mana kesadaran Diri Sejati (Higher Self) sudah muncul sampai batas tertentu. Artinya, aura (prana, dan kundalini) harus mencapai titik Sahasrara.
Dengan memenuhi prasyarat tersebut, jika seseorang menghembuskan napas secara perlahan dan menjadi kosong dari pikiran, kesadaran Diri Sejati yang berada di dimensi yang lebih tinggi akan sedikit demi sedikit muncul.
Awalnya, hal ini mungkin sulit untuk dipahami, tetapi misalnya dengan melafalkan mantra "Om" atau "Au" yang memiliki nada pendek, seseorang dapat merasakan keberadaan kesadaran yang lebih tinggi tersebut.
Atau, tanpa harus melalui latihan khusus, jika seseorang fokus dan bekerja keras dalam pekerjaan sehari-hari, pada akhirnya mereka akan memasuki "zona" (flow state), dan melalui hal itu, mereka dapat terhubung dengan Diri Sejati yang berada di dimensi yang lebih tinggi dan melakukan pekerjaan tersebut. Karena berada dalam "zona," pada dasarnya harus merasa gembira, tetapi kegembiraan ini hanya bersifat emosional. Selain kegembiraan emosional (yang terjadi ketika Diri Sejati menjadi dominan), seseorang akan menjadi lebih mampu melihat ke depan dan, sebagai hasilnya, kualitas dan kecepatan kerja akan meningkat. Intuisi akan menjadi lebih kuat.
Ketika seseorang memasuki "zona," aura akan meningkat dan titik Sahasrara akan teraktivasi. Melalui pekerjaan, seseorang dapat lebih mudah memasuki kondisi tersebut.
Baik melalui pekerjaan maupun melalui meditasi, keduanya dapat menghubungkan seseorang dengan Diri Sejati. Namun, dalam pekerjaan, pasti akan ada banyak gangguan dan interferensi dari lingkungan sekitar, sehingga ketika kesadaran seseorang mulai meningkat, mereka mungkin menerima guncangan mental yang kuat dan menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, memasuki "zona" melalui pekerjaan memiliki aspek yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, cara yang lebih aman adalah dengan melakukan meditasi sendiri atau menghembuskan napas secara perlahan untuk menenangkan pikiran. Dalam kedua kasus tersebut, seseorang awalnya akan melewati kegembiraan "zona," tetapi pada akhirnya kegembiraan sebagai aspek emosional akan mereda, dan titik Sahasrara akan teraktivasi, sehingga kesadaran Diri Sejati akan muncul dan menjadi dominan.
Kegembiraan sementara dan koneksi singkat dengan Diri Sejati, serta intuisi, relatif sering terjadi pada siapa pun, baik saat mereka sedang fokus bekerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika seseorang menenangkan diri melalui meditasi, ketenangan akan secara bertahap menyebar ke dalam kehidupan sehari-hari. Ada atau tidaknya hal ini memang sudah ada sejak awal, tetapi yang berbeda adalah tingkat keberlanjutannya.