Seringkali, dalam percakapan tentang Buddhisme, muncul pertanyaan pilihan ganda seperti "apakah ini tentang mencapai keadaan tanpa pikiran (munen musho) atau tentang pengamatan (vipassanā) yang diajarkan oleh Buddha?" Namun, ini adalah pernyataan yang sangat keliru. Faktanya, kedua hal ini tidak saling bertentangan. Keadaan tanpa pikiran (munen musho) dari pikiran biasa (mind) dan pengamatan (vipassanā) dari kesadaran yang lebih tinggi (higher self, atman, diri sejati) tidak saling bertentangan, dan keduanya dapat berdiri berdampingan dan hidup berdampingan.
Namun, di masyarakat, kedua hal ini seringkali digambarkan sebagai pilihan ganda, seolah-olah salah satu benar dan yang lain salah. Ada perdebatan tentang apakah keadaan tanpa pikiran (munen musho) yang benar atau pengamatan (vipassanā) yang benar, atau apakah meditasi konsentrasi (shamata) yang benar atau meditasi pengamatan (vipassanā) yang benar. Ini bukan hanya cerita yang tidak masuk akal, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang merepotkan untuk terlibat karena orang-orang saling berselisih. Sejak dulu, seringkali aliran atau kelompok spiritual atau agama memiliki hubungan yang buruk, saling mengkritik karena perbedaan pandangan.
Namun, kedua cerita ini sebenarnya tidak saling bertentangan.
Keadaan tanpa pikiran (munen musho) termasuk dalam jenis meditasi konsentrasi (shamata). Ini adalah tentang memfokuskan perhatian pada satu titik untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu dan, secara harfiah, mengosongkan pikiran. Namun, ketika kita berbicara tentang "pikiran" di sini, istilah "pikiran" dalam bahasa Jepang memiliki makna yang luas, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman. Ketika kita mengatakan "konsentrasi" dalam meditasi shamata, itu berarti memfokuskan pikiran (mind) untuk berkonsentrasi. Oleh karena itu, keadaan tanpa pikiran (munen musho) adalah keadaan dari pikiran (mind) yang sama yang menjadi tenang dan berhenti berfungsi.
Di sisi lain, kata "pengamatan" (vipassanā) sering disalahpahami. Meditasi vipassanā yang dilakukan oleh berbagai aliran di masyarakat adalah tentang mengamati bagian tubuh tertentu atau gerakan pikiran. Meskipun disebut "pengamatan," yang melakukan pengamatan tersebut adalah pikiran (mind). Jadi, meskipun kata-katanya berbeda, pada dasarnya ini adalah tentang konsentrasi. Banyak meditasi vipassanā di masyarakat menyebut konsentrasi tersebut sebagai "pengamatan" (vipassanā), tetapi pada kenyataannya, keadaan samādhi yang dapat dianggap sebagai meditasi vipassanā yang sebenarnya bukanlah keadaan seperti itu.
■ Pikiran (mind) dan pengamatan (vipassanā) yang sebenarnya memiliki dimensi yang berbeda.
Baik meditasi shamata maupun meditasi vipassanā yang dilakukan oleh berbagai aliran atau tradisi, keduanya dapat dikatakan melakukan konsentrasi dan pengamatan dengan cara yang berbeda, sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, pengamatan (vipassanā) yang diajarkan oleh Buddha bukanlah "tindakan" yang dilakukan oleh pikiran (mind), melainkan fungsi kehendak dari diri yang lebih tinggi (higher self, atman, diri sejati). Itu adalah fungsi dari diri yang lebih tinggi, tetapi jika kita menyebutnya "tindakan," itu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Meskipun secara linguistik kita dapat menggunakan istilah seperti itu, secara budaya dan tradisional, fungsi kehendak dari diri yang lebih tinggi (higher self, atman, diri sejati) biasanya tidak dianggap sebagai "tindakan" atau "perbuatan." Oleh karena itu, dalam hal ini, diri yang lebih tinggi (higher self) tidak melakukan tindakan, tetapi hanya melakukan pengamatan (vipassanā). Sebenarnya, ini juga memiliki aspek "pengaruh," tetapi secara tradisional, diri yang lebih tinggi (higher self) tidak dianggap sebagai "tindakan" atau "perbuatan."
Jadi, pada dasarnya, meditasi Vipassana (observasi) yang diajarkan oleh Buddha adalah ketika Diri Tinggi (Higher Self) seseorang terbuka dan melihat, mendengar, mengamati, dan menyampaikan maksud dari dimensi tersebut. Namun, ini sebenarnya adalah hal yang berbeda dari cara kerja pikiran sadar yang biasa, yaitu pikiran yang berpikir. Karena dimensinya berbeda, keduanya adalah kebenaran, dan tidak saling bertentangan.
Dalam kedua kasus, sampai seseorang mencapai kesadaran Diri Tinggi, tidak ada banyak perbedaan antara meditasi Shamata (meditasi konsentrasi) dan meditasi Vipassana (meditasi observasi). Orang tersebut dapat menggunakan metode yang paling nyaman baginya. Seiring waktu, konsentrasi akan semakin tajam dan mencapai zona di mana seseorang dapat berkonsentrasi dengan baik, atau tahap awal Samadhi. Kemudian, akan ada kegembiraan pada kesadaran, diikuti oleh keadaan ketenangan dan keheningan. Namun, itu masih belum merupakan keadaan tanpa pikiran, melainkan hanya keadaan yang tenang. Kemudian, ada tahap di mana seseorang benar-benar terhubung dengan kesadaran Diri Tinggi. Hanya terhubung dengan Diri Tinggi saja belum cukup untuk mencapai kesadaran diri, dan dibutuhkan waktu lebih lama agar kesadaran diri sebagai Diri Tinggi muncul. Namun, Vipassana yang diajarkan oleh Buddha memiliki cakupan yang luas, dan meskipun seseorang telah mencapai keadaan ketenangan, itu mungkin saja disebut sebagai Vipassana. Tetapi, sebenarnya, Vipassana dalam arti yang dimaksud oleh Buddha adalah ketika kesadaran diri sebagai Diri Tinggi muncul, dan Diri Tinggi mulai secara aktif mengamati dan menyampaikan maksud.
Dalam penjelasan di dunia akademis, aspek "observasi" dari Diri Tinggi (atau Atman, Jiwa) sering ditekankan. Hal ini diinterpretasikan sebagai "kesadaran yang ada di sana, yang ada melampaui waktu," dan "ada secara universal dalam ruang, tanpa berubah dari masa lalu, sekarang, dan masa depan." Kesadaran yang ada ini, pada dasarnya, tidak dapat dirasakan oleh kesadaran sadar (pikiran, citta) manusia biasa (Jiva). Secara lebih spesifik, secara tradisional diinterpretasikan bahwa "Diri Tinggi tidak dapat dirasakan oleh lima indra manusia."
■ Diri Tinggi menyatakan maksud dan bertindak pada tingkat yang lebih tinggi.
Namun, pada kenyataannya, meskipun tidak dapat dirasakan oleh lima indra, ketika seseorang mencapai kesadaran Diri Tinggi, seseorang dapat menyadari kesadaran Diri Tinggi. Hal ini, dalam arti "merasakan," cukup mirip dengan sensasi sentuhan kulit, tetapi lebih merupakan sensasi spiritual. Pada dasarnya, seseorang merasakan kehadiran Diri Tinggi di jantung, di pusat Anahata. Selain itu, Diri Tinggi yang menjadi subjek, benar-benar merasakan atau menyampaikan kesadaran, dan hal ini terjadi dari tingkat yang lebih tinggi, terkadang dengan cara yang halus, dan kadang-kadang dengan cara yang cukup kuat.
Dalam dunia pembelajaran, konsep diri tertinggi atau "true self" dipelajari sebagai sesuatu yang terpisah dari lima indra dan pikiran manusia (akal). Namun, pada kenyataannya, kesadaran diri tertinggi adalah sesuatu yang nyata dan merupakan pengalaman yang sebenarnya.
Saat belajar, terkadang, tergantung pada aliran pemikiran, diri tertinggi atau Atman (diri sejati) digambarkan sebagai "bukan tindakan." Penjelasan seperti "memahami tanpa tindakan" sering digunakan, tetapi ini hanyalah upaya untuk menjelaskan dengan cara yang mungkin mengurangi kesalahpahaman. Gambaran ini sangat berbeda dari kenyataannya.
Pada kenyataannya, kesadaran diri tertinggi itu hidup, nyata, dan diri tertinggi itu sendiri sangat "aktif" dalam dimensi yang lebih tinggi. Secara harfiah, itu adalah "tindakan," tetapi karena berada dalam dimensi yang berbeda, itu bukanlah tindakan fisik tiga dimensi atau tindakan fisik tiga dimensi. Oleh karena itu, penjelasan dalam dunia pembelajaran bisa dikatakan benar, tetapi jika dikatakan sepenuhnya "bukan tindakan," itu juga bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Jika kita benar-benar memahami, kita seharusnya tidak terlalu terpaku pada perbedaan kata-kata. Kita bisa dengan santai menyebut "tindakan diri tertinggi" seperti "melihat (mengamati), mendengar (memperhatikan), dan bertindak (mengeluarkan niat, melakukan sesuatu)," dengan asumsi bahwa hal-hal tersebut tentu saja ada. Namun, secara tradisional, semua "tindakan" diri tertinggi (Atman, diri sejati) dianggap "bukan tindakan," sehingga dalam beberapa aliran pemikiran, penyampaiannya bisa menjadi berbelit-belit. Pada kenyataannya, itu hanyalah kesadaran yang ada dengan niat dan aktivitas, hanya saja berada dalam dimensi yang lebih tinggi.
Munculnya kesadaran seperti itu, menurut saya, adalah salah satu aspek dari Vipassana yang diajarkan oleh Buddha. Namun, perlu saya tegaskan bahwa ini adalah interpretasi pribadi saya, dan bukan berdasarkan interpretasi dari aliran pemikiran tertentu.