Tujuan
Dokumen ini adalah sebuah pengorganisasian untuk membandingkan konsep-konsep berikut: dalam Kabbalah, Ain Soph/En Sof, Sephirot, dan dalam konteks Vedanta Yoga Ramana Maharshi, Brahman, Karanan, Ananda, Buddhi, Order, dan Oneness.
Yang sangat penting adalah membedakan kedua sumbu berikut ini.
- Kesesuaian dari segi literatur dan metafisika.
- Kesesuaian berdasarkan pengalaman spiritual dan proses internal yang dialami.
Jika hanya dilihat dari aspek sebelumnya, Ain Soph terlihat mirip dengan Nirguna Brahman.
Namun, yang terakhir, yaitu jika dilihat sebagai tingkatan yang sebenarnya dilalui secara internal oleh seorang praktisi, maka Ein Sof lebih terlihat seperti batas antara keadaan yang belum terpadu, kedalaman, kengerian, dan perasaan penghancuran diri, yang muncul sebelum kesatuan itu sendiri, dan lebih dekat dengan Karana atau "penjaga gerbang."
Dalam dokumen ini, kami akan menguraikan ambivalensi tersebut.
1. Istilah Dasar
1.1 Ain Sof / En Sof
"Ain Sof," atau "En Sof," adalah sebuah konsep dalam mistisisme Yahudi, khususnya Kabbalah.
Secara makna,
- Hal yang tak berkesudahan
- Sesuatu yang tak terbatas
- Keilahian tanpa batas
- Sumber ketuhanan yang tidak dapat disebut namanya
Mirip.
Ini sedikit berbeda dari "Tuhan" yang dipahami sebagai pribadi ilahi.
Bukanlah dewa yang mendengarkan doa, menghukum, membimbing, atau membuat perjanjian, melainkan sesuatu yang lebih dalam lagi, yaitu keilahian tak terbatas yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata maupun konsep.
Dalam tradisi Kabala, Ain Soph itu sendiri tidak dapat dipahami secara langsung.
Dari sana, cahaya ilahi mengalir keluar dan berkembang menjadi Sephirah, yaitu struktur Pohon Kehidupan, dan dunia muncul.
Jika disederhanakan, diagramnya akan terlihat seperti ini:
Ain Soph ↓ Cahaya Tak Terhingga ↓ Sephirot ↓ Dunia Penciptaan
1.2 Sephirot
Sephirot adalah 10 saluran, tingkatan, atau sifat ilahi yang memungkinkan Ein Sof, yaitu keilahian tak terbatas, untuk terwujud sebagai dunia, jiwa, dan tatanan.
Ain Soph itu sendiri adalah tak terbatas, tidak memiliki bentuk atau sifat, dan tidak dapat dipahami secara langsung oleh manusia.
Ketika keabadian itu muncul di dunia, ia terwujud dalam 10 tindakan ilahi.
Itu adalah Sephirah.
Seringkali, hal ini digambarkan dengan diagram yang disebut "Pohon Kehidupan".
1. Keter
2. Kokmer 3. Bina
4. Kesed 5. Geburah
6. Tipheret
7. Netzach 8. Hod
9. Yesod
10. Malkuth
Secara garis besar,
Ain Soph ↓ Sephirot ↓ Dunia, Manusia, Alam, Jiwa
adalah.
Sephirot bukanlah berarti bahwa Tuhan terbagi menjadi 10 bagian.
Lebih tepatnya, keilahian yang tak terbatas termanifestasi dalam 10 fungsi yang dapat dipahami oleh manusia.
1.3 Brahmana
Brahman adalah realitas fundamental alam semesta dalam Vedanta, khususnya filsafat Upanishad.
Dalam Vedanta monistik, pada akhirnya,
Atman = Brahman.
Dikatakan demikian.
Dengan kata lain, esensi diri dan realitas fundamental alam semesta adalah sama.
Namun, Brahman bukanlah sekadar "objek yang diketahui".
Terutama, Nirguna Brahman, yaitu Brahman yang tanpa atribut, adalah...
- Melebihi kata-kata.
- Melebihi pemikiran.
- Tidak dapat dikenali sebagai suatu objek.
- Melampaui dikotomi antara yang mengetahui dan yang diketahui.
adalah sesuatu.
Dalam arti tertentu, secara tekstual dan filosofis, konsep ini terlihat sangat mirip dengan Ain Soph.
1.4 Karana
Di sini, istilah "karana" digunakan untuk merujuk pada lapisan penyebab, esensi penyebab, atau kondisi benih yang belum berkembang.
Dalam sistem tiga badan dalam Vedanta,
ストゥーラ・シャリーラ = Tubuh kasar/tubuh materi. スークシュマ・シャリーラ = Tubuh halus/lapisan pikiran, perasaan, dan energi vital (prana). カーラナ・シャリーラ = Tubuh kausal/keadaan benih laten.
adalah.
Karana adalah lapisan yang, meskipun belum secara jelas muncul sebagai fenomena, mengandung benih dari potensi terjadinya fenomena tersebut.
Ini berhubungan dengan tidur nyenyak, potensi terpendam, ketidaktahuan, dan keadaan yang belum berkembang.
1.5 Arnaanda
Ananda berarti kegembiraan, kebahagiaan, dan kepuasan.
Menurut teori lima selubung, Ānandamāyakośa, yang berkaitan dengan selubung kebahagiaan.
Namun, di sini, "ananda" bukanlah sekadar kesenangan atau kebahagiaan emosional.
Sebaliknya, ini adalah kepuasan yang tenang dan mendalam, yang terasa ketika pikiran dan emosi individual mereda, mendekati akar penyebabnya.
1.6 Buddhi
Buddhi berarti kecerdasan, pengetahuan diskriminatif, penilaian, pemahaman, dan kebijaksanaan intuitif.
Bukan hanya sekadar pemikiran logis,
- Kemampuan untuk membedakan.
- Kemampuan untuk membuat keputusan.
- Kemampuan untuk mengenali kebenaran dan kepalsuan.
- Kemampuan untuk memahami esensi secara intuitif.
termasuk.
Dalam yoga dan Vedanta, buddhi dianggap sebagai kecerdasan yang lebih tinggi daripada manas.
1.7 Pemesanan
Di sini, istilah "Order" bukanlah sekadar ketertiban, aturan, atau norma sosial.
Dalam perspektif Vedanta, seluruh alam semesta dapat dipahami sebagai Tatanan Īśvara, bukan sekadar kebetulan atau kekacauan.
Dalam pesanan, misalnya termasuk hal-hal berikut:
- Hukum fisika
- Hubungan sebab akibat
- Struktur makhluk hidup
- Fungsi pikiran
- Karma
- Kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian
- Pembelajaran moral dan spiritual
- Asal usul seluruh alam semesta
Dengan kata lain, Order adalah suatu keteraturan universal yang meliputi seluruh keberadaan.
1.8 Keutuhan
"Oneness" adalah kata yang sering digunakan dalam konteks spiritualitas modern.
Secara makna,
- Semuanya adalah satu.
- Pemisahan hanyalah ilusi.
- Seluruh alam semesta adalah kesadaran tunggal.
- Setiap entitas individual pada dasarnya saling terhubung.
Seperti itu, merupakan ungkapan tentang rasa kebersamaan.
Namun, istilah "kesatuan" adalah kata yang sangat luas dan, sebagai sebuah sistem pemikiran, bersifat ambigu.
Di sisi lain, Brahman dan Ain Soph berada dalam kerangka pemikiran yang jelas, yaitu Vedanta dan Kabala.
2. Gambaran Keseluruhan ala Kabala
Dalam tradisi Kabala, terdapat Keilahian yang tak terbatas bernama Ain Soph, dan dari sana dunia muncul melalui Sephirah.
Jika disederhanakan, menjadi seperti berikut:
Ain Soph ↓ Cahaya Tak Terhingga ↓ Sephirot ↓ Dunia Penciptaan
Di sini, Ain Soph berada sebelum "dunia yang teratur".
Oleh karena itu, dari sudut pandang Kabala,
Ain Soph > Sephirot > Tatanan Dunia.
Sepertinya demikian.
Namun, ini tidak berarti bahwa Ain Soph adalah "tidak teratur".
Sebaliknya,
Sebelum perbedaan antara keteraturan dan ketidakteraturan dapat dibentuk.
Artinya adalah.
Dengan kata lain, dari sudut pandang Kabala, Ain Soph terlihat seolah berada di luar tatanan (beyond order), atau sebelum adanya tatanan (pre-order).
3. Penjelasan Singkat tentang Sephirot
3.1 Keter | Mahkota
Sephira tingkat tertinggi.
Ini adalah kehendak awal dan arah fundamental yang masih dalam bentuk sebelum menjadi wujud ketuhanan sepenuhnya.
Dengan kata lain,
Titik pertama yang akan muncul.
adalah.
Dari sudut pandang Vedanta, mahkota Ananda yang berada di lapisan penyebab tampak menjadi yang pertama, atau dekat dengan kehendak fundamental.
3.2 Kokumaru | Pengetahuan
Intuisi yang bijaksana.
Masih merupakan sesuatu yang belum terorganisir, sebuah ide cemerlang, benih, atau kekuatan prinsip maskulin.
Sebuah kilasan pikiran, Benih kreativitas, Titik awal kebijaksanaan.
Mirip.
Dalam perspektif Vedanta, hal ini tampak dekat dengan aspek intuitif dan inspiratif dari Buddha.
3.3 Biner | Pemahaman
Menerima dan mewujudkan ide-ide yang muncul dari Kokumaru, dengan pemahaman yang mendalam.
Ini adalah prinsip struktur, analisis, dan wadah yang bersifat keibuan.
Kemampuan untuk mengubah ide menjadi bentuk yang mudah dipahami.
adalah.
Dalam perspektif Vedanta, hal ini mirip dengan pemahaman dan struktur yang dikembangkan oleh Buddha.
3.4 Kesed | Kasih Sayang
Perluasan, cinta, kemurahan hati, kekuatan untuk memberi.
Ini adalah arah yang terus berkembang, memberikan pengampunan, dan memberi berkat.
Dalam hal positif, ada kemakmuran.
Jika berlebihan, akan menjadi terlalu manis atau mengembang.
3.5 Gebra | Kaku dan Tegas
Batasan, penilaian, kekuatan, batas.
Jika Kesed adalah kekuatan yang menyebar, Gebra adalah kekuatan yang mengikat.
Ini bisa diterima. Ini harus dihentikan.
Ini adalah prinsip, aturan, dan batasan yang mendasarinya.
3.6 Tiphereth | Keindahan
Keseimbangan di pusat.
Ini adalah keseimbangan yang mengintegrasikan belas kasihan dan ketegasan, serta perluasan dan pembatasan.
Sumbu pusat Harmoni Keindahan Diri yang lebih tinggi
Seperti posisi tersebut.
Dari sudut pandang Vedanta, hal itu mendekati keselarasan, pusat, dan integrasi Sattva.
3.7 Netsuke | Kemenangan
Semangat, ketekunan, keinginan, vitalitas, dorongan emosional.
Ini adalah energi untuk mencapai sesuatu.
Dalam arti positif, ini adalah kelanjutan dari sebuah niat.
Jika berlebihan, hal itu dapat menyebabkan obsesi atau emosi yang terlalu kuat.
3.8 Hod | Kehormatan
Kecerdasan, bahasa, analisis, format, komunikasi.
Jika Netzaq adalah kekuatan emosional dan vital, maka Hod adalah kekuatan intelektual dan formal.
Mengungkapkan dengan kata-kata Menyusun Menganalisis Mensistematisasi
Fungsinya adalah seperti itu.
3.9 Yesod | Dasar
Titik penghubung untuk mentransfer kekuatan Sephirah tingkat tinggi ke dunia nyata.
Mimpi, alam bawah sadar, imaji, simbol, seperti tempat yang bersifat spiritual.
Bagian penghubung antara dunia yang tak terlihat dan dunia yang dapat dilihat.
Mirip.
Dalam perspektif Vedanta, hal itu mirip dengan perantara yang sangat halus, mimpi, simbol, dan citra bawah sadar.
3.10 Marlkto | Kerajaan
Sephirah paling bawah.
Kekuatan ilahi pada akhirnya termanifestasi sebagai dunia nyata.
Dunia materi, alam, tubuh, adalah realitas sehari-hari.
Namun, ini bukan berarti "rendah itu buruk".
Semua yang disebutkan di atas adalah tempat-tempat yang sebenarnya ada.
Dalam perspektif Vedanta, stula sharira (tubuh kasar) paling dekat dengan dunia material dan fenomena.
4. Kesesuaian antara Sephirot dan elemen Vedanta
Jika kita menyederhanakannya, hasilnya akan seperti berikut:
Ain Soph
≈ Nilguna Brahman
≈ Secara metafisik, sumber yang melampaui kausalitas itu sendiri.
Keter
≈ Manifestasi pertama dari lapisan penyebab.
≈ Kepuasan yang belum terdiferensiasi seperti Ananda Maya.
≈ Kehendak fundamental.
Kokumar
≈ Intuisi Buddha.
≈ Benih kebijaksanaan.
Binah
≈ Pemahaman dan strukturisasi Buddha.
≈ Wadah untuk membentuk kebijaksanaan.
Chesed / Geburah
≈ Ekspansi dan pembatasan.
≈ Kekuatan memberi dan kekuatan menetapkan batasan.
Tiferet
≈ Harmoni Sattva.
≈ Pusat, keindahan, integrasi.
Netzach / Hod
≈ Dorongan emosional dan formalisasi intelektual.
≈ Dorongan Prana dan organisasi Manas.
Yesod
≈ Mediasi Sukshma.
≈ Mimpi, simbol, citra potensial.
Malkuth
≈ Shtula Sharira.
≈ Dunia material.
Namun, ini tidak sepenuhnya kompatibel.
Dalam Kabala, Sephirot adalah struktur manifestasi dan perwujudan ketuhanan.
Dalam Vedanta, Kosha, Sharira, dan Antahkarana sering dijelaskan sebagai lapisan yang digunakan untuk membedakan apa yang bukan merupakan "diri" sejati.
Dengan kata lain,
Kabala
= Peta yang menggambarkan bagaimana keilahian turun dari atas menuju dunia.
Vedanta
= Peta untuk membedakan apa yang bukan diri sendiri, dan akhirnya kembali kepada Atman.
adalah.
Arahnya berbeda.
Kabala adalah peta emisi.
Vendanta adalah peta diskriminasi.
5. Kesesuaian dalam Literatur dan Filsafat.
Dalam literatur dan perspektif metafisik, Ain Soph mirip dengan Nirguna Brahman.
Keduanya,
- Tak terbatas
- Melampaui bahasa
- Melampaui atribut
- Tidak dapat dipahami dengan pemahaman manusia yang biasa
- Sumber dari segala sesuatu
Memiliki sifat seperti itu.
Dalam hal ini, hubungan berikut berlaku:
Ayn Sof ≈ Nilguna Brahman.
Selain itu, Sephirah tampak lebih sebagai fungsi ilahi yang memungkinkan Absolut terwujud dalam dunia, daripada menjadi Absolut itu sendiri.
Dalam kosakata Vedanta, ini mirip dengan fungsi Ishvara, atau ekspansi fungsional dari tatanan kosmik.
Ain Soph
≈ Nilguna Brahman
Sephirot
≈ Tatanan dan ekspansi fungsional Ishvara
Malkuth
≈ Dunia fenomenal
Pengaturan ini, secara metafisik, relatif rapi.
Namun, dalam hal pengalaman pelatihan, ini saja tidaklah cukup.
6. Penanganan dalam Pengalaman Spiritual
Dalam konteks pengalaman spiritual, lebih tepat untuk memandang Ain Soph bukan sebagai "titik akhir" yang sederhana, melainkan sebagai lapisan batas sebelum kesatuan (ke-Esa-an).
Sebagai pengalaman seorang praktisi spiritual, seringkali muncul hal-hal berikut sebelum mencapai kesatuan atau realisasi diri:
- Kekacauan
- Keterorotan
- Perasaan kematian
- Sensasi kehancuran diri
- Ketakutan akan keabadian
- Kedalaman
- Pintu
- Penjaga pintu
- Perasaan bahwa harus melewati sesuatu
- Resistensi terhadap hilangnya identitas
Dari sudut pandang ini, Ain Soph, Karana, penjaga gerbang, dan ketakutan akan kekacauan, meskipun memiliki sistem yang berbeda, tampak seperti lapisan-lapisan yang serupa dalam pengalaman.
Dengan kata lain,
Diri Sehari-hari ↓ Pikiran, Kesadaran Bawah, Karma, Lapisan Penyebab ↓ Kekacauan, Ketakutan, Kematian, Kedalaman, Penjaga Gerbang ↓ Kesatuan / Diri Sejati / Brahman
adalah.
Dalam kasus ini, Ain Soph dapat dipahami sebagai batas tak terbatas, tidak terbedakan, dan menakutkan yang ditemui individu sebelum kesatuan, daripada menjadi kesatuan itu sendiri.
7. Posisi Ketakutan dalam Perspektif Yoga Sutra
Dalam Yoga Sutra, ketakutan, terutama keterikatan pada kematian dan keengganan untuk melepaskan diri dari kehidupan, disebut sebagai "abhinivesa," yang merupakan salah satu dari lima gangguan.
Yang penting adalah, ketakutan bukanlah sekadar emosi yang dangkal.
Ketakutan adalah,
Saya ingin terus hidup sebagai diri saya sendiri.
Ini terkait dengan dorongan mendasar untuk mempertahankan diri sendiri.
Oleh karena itu, semakin dekat seseorang dengan kebersamaan (kesatuan), semakin besar kemungkinan individu tersebut merasakan krisis eksistensial.
Dalam arti ini,
Sebelum mencapai kesatuan, muncul rasa takut.
Struktur seperti itu terasa alami.
Ketakutan dapat dilihat sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kegagalan, melainkan tanda bahwa batas-batas individu mulai goyah.
8. Ketakutan akan kematian ala Ramana Maharshi.
Bahkan dalam pengalaman pencerahan terkenal dari Ramana Maharshi, yang pertama kali muncul bukanlah kebahagiaan, melainkan ketakutan akan kematian yang sangat kuat.
Dia dilanda ketakutan akan kematian, dan alih-alih menghindarinya, dia justru mengamati kematian itu secara mendalam.
Sebagai hasilnya,
Kematian adalah tentang tubuh. Namun, yang mengetahui hal itu akan tetap ada.
Arahnya menuju ke sana.
Struktur ini dapat diatur sebagai berikut:
Ketakutan akan kematian ↓ Menghadapi langsung kehancuran tubuh dan individu. ↓ Penemuan hal-hal yang tetap ada meskipun demikian. ↓ Diri sejati.
Dengan kata lain, bagi Ramana, ketakutan bukanlah kegagalan, melainkan sebuah pintu masuk.
Di balik ketakutan akan kematian, terdapat sesuatu yang lebih dari sekadar individu; ada "sejati diri".
9. Penjaga Gerbang Steiner.
Dalam antropologi Steiner, entitas yang disebut "penjaga batas" atau "satpam," juga tampak memiliki struktur yang sama.
Sebelum memasuki dunia spiritual, seorang praktisi harus menghadapi bagian-bagian dirinya yang belum terintegrasi, ketakutan, sisi gelap, tanggung jawab, dan kedalaman batinnya.
Ini dapat dipahami bukan sebagai monster eksternal, melainkan sebagai manifestasi dari konten internal seseorang yang muncul ke permukaan.
Secara struktur,
Kesadaran normal ↓ Gerbang / Batas wilayah ↓ Ketakutan, bayangan diri, kekacauan, kedalaman ↓ Dunia spiritual
adalah.
Oleh karena itu, penjaga gerbang Steiner dapat dibaca sebagai pintu gerbang ketakutan yang ada sebelum kebersatuan, atau bahkan sebelum dunia spiritual.
10. Ketakutan akan Ain Soph dalam praktik Kabala.
Sebagai doktrin resmi, sebaiknya berhati-hati dalam menyebut Ain Soph sebagai "ketakutan itu sendiri".
Namun, praktisi atau guru dapat dengan mudah berbicara tentang Ain Soph sebagai sesuatu yang menakutkan.
Karena, Ain Soph adalah,
- Tak terbatas
- Tidak dapat dipahami
- Sebelum manifestasi diri
- Melebihi pemahaman manusia
- Menghilangkan batas-batas individualitas
Karena memiliki sifat seperti itu.
Ketika saya mencoba membahasnya, secara psikologis,
Ketakutan Teror Perasaan akan kehancuran diri sendiri Sensasi ditelan oleh kedalaman
Dapat muncul sebagai.
Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman,
Ain Soph = Wilayah tak terbatas, kedalaman, dan rasa takut yang dialami individu sebelum mencapai kesatuan.
sebagai sesuatu yang dapat dibaca.
Ini penting, terlepas dari penjelasan tentang Ain Soph dalam literatur, sebagai pemahaman berdasarkan pengalaman spiritual.
11. Masalah tentang urutan dan tidak berurutan.
Di sini, masalah tentang konsep "ketertiban" dalam filsafat Vedanta muncul.
Dalam tradisi Kabala, Ain Soph ada sebelum Sephirah.
Sephirot adalah struktur yang terorganisir dari sifat-sifat ilahi.
Oleh karena itu, dalam diagram Kabala,
Ain Soph ↓ Sephirot ↓ Dunia yang teratur.
Menjadi seperti itu.
Dari sudut pandang ini, Ain Soph tampak berada sebelum Ketertiban, atau di luar Ketertiban.
Namun, dari sudut pandang Vedanta, konsep "sebelum Ordo" ini menimbulkan ketidaksesuaian.
Karena, ketertiban tidak muncul dari ketiadaan.
Jika sesuatu muncul, maka di sana sudah pasti terdapat kemungkinan, aturan, sebab akibat, dan keteraturan yang memungkinkan kemunculannya.
Sulit untuk membayangkan bahwa alam semesta yang teratur muncul dari kekacauan total, tanpa aturan sama sekali, dan tanpa hubungan apa pun.
Oleh karena itu, dari sudut pandang Vedanta,
Bahkan hal yang terlihat tidak teratur, mungkin bukan berada di luar tatanan.
Lebih alami jika kita berpikir seperti itu.
Hal yang tampak tidak teratur, sebenarnya karena manusia belum dapat membaca keseluruhan keteraturan dari sudut pandang mereka.
Dengan kata lain,
Di balik kekacauan, terdapat ketertiban. Di balik kebetulan, terdapat sebab akibat. Di balik pemisahan, terdapat keseluruhan.
Menjadi pandangan seperti ini.
Dalam hal ini, "Order" yang menjadi prioritas utama.
12. Perbedaan antara perspektif Kabala dan perspektif Vedanta.
Jika diungkapkan dengan gaya Kabala,
Di hadapan ketertiban, terdapat keabadian yang melampaui batas ketertiban.
Menjadi seperti itu.
Dalam gaya Vedanta, jika dikatakan bahwa...
Bahkan hal-hal yang tampak melampaui keteraturan, sebenarnya berada dalam suatu keteraturan yang lebih mendalam.
Menjadi seperti itu.
Perbedaan ini sangat besar.
Dengan kata lain, keduanya mirip tetapi memiliki arah pandang yang berbeda.
Dalam Kabala, keteraturan mengalir dari keilahian yang tak terbatas.
Dalam Vedanta, bahkan sesuatu yang tampak tidak teratur pun mengandung tatanan yang lebih dalam.
13. Koreksi Penting
Dalam penyortiran sederhana sebelumnya,
Ayn Sof ≈ Nilguna Brahman.
dan diletakkan.
Ini, secara literatur dan metafisik, dapat dianggap sebagai sesuatu yang cukup valid.
Namun, dalam pengalaman pelatihan, hal itu saja tidaklah cukup.
Setelah dikoreksi, akan dilakukan duplikasi seperti berikut:
Perbandingan Metafisik: Ain Soph ≈ Nilguna Brahman
Perbandingan Berdasarkan Pengalaman Spiritual: Ain Soph ≈ Karana / Keadaan belum terbedakan / Batas ketakutan sebelum kesatuan.
Dengan kata lain, sumbu perbandingan yang digunakan berbeda.
Apakah ini dilihat sebagai konsep tertinggi dalam doktrin, atau sebagai pengalaman internal yang dialami oleh seorang praktisi?
Perbedaannya adalah.
Jika kedua hal ini disamakan, hubungan antara keduanya akan menjadi tidak jelas.
14. Tingkatan Keseluruhan dalam Pengalaman Melakukan Perjalanan Spiritual.
Sebagai tingkatan dalam pengalaman pelatihan, hal ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Diri Sehari-hari ↓ Manas / Pikiran / Kesadaran Permukaan ↓ Buddhi / Kecerdasan Diskriminatif ↓ Ananda / Kepuasan yang Mendalam ↓ Karana / Lapisan Penyebab / Keadaan Benih yang Belum Terdiferensiasi ↓ Kekacauan, Ketakutan, Kematian, Kedalaman, Penjaga Gerbang ↓ Kesatuan / Diri Sejati / Brahman
Di sini, hal yang penting adalah bahwa ketakutan bukanlah sekadar emosi yang rendah.
Ketakutan adalah,
Reaksi pertahanan terakhir yang terjadi ketika seseorang merasakan akan mendekati akhir hidupnya.
adalah.
Karena, semakin dekat dengan kebersamaan (kesatuan), rasa takut terkadang bisa menjadi lebih kuat.
Secara lahiriah,
Ketakutan ada = Belum matang.
Terlihat seperti itu.
Namun, di tingkat yang lebih dalam,
Ketakutan muncul = Batas individu mulai goyah.
Juga bisa dikatakan demikian.
Tentu saja, ini bukan berarti harus dipaksakan untuk berhasil.
Namun, secara struktur, tampaknya seperti itu.
15. Interpretasi pengalaman pelatihan dari sudut pandang Kabala.
Jika sisi Kabala diterjemahkan sebagai pengalaman pelatihan, maka tampilannya akan seperti berikut:
マルクト ↓ イェソド ↓ ホド / ネツァク ↓ ティファレト ↓ ビナー / Кокма ↓ Кетер ↓ Айн Соф ↓ Absolutitas yang bersifat kesatuan.
Namun, dalam Kabbalah tradisional, biasanya tidak dikatakan bahwa ada kesatuan yang melampaui Ain Soph.
Dalam tradisi Kabala, Ain Soph sangat dekat dengan konsep yang paling mutlak.
Namun, jika kita melihatnya secara lintas bidang sebagai mistisisme komparatif dan teori pengalaman spiritual, maka "Ain Soph" bukanlah "kesatuan itu sendiri," melainkan lebih tepat dipahami sebagai batas tak terbatas, tidak terbedakan, dan menakutkan yang ditemui individu sebelum mencapai kesatuan.
Pembacaan ini bukanlah tabel korespondensi yang ketat dari doktrin tradisional, tetapi efektif sebagai struktur umum pengalaman pelatihan.
16. Kesamaan antara Ain Soph, Karana, dan Penjaga Gerbang.
Ketiga hal berikut ini memiliki sistem yang berbeda, tetapi dalam pengalaman, mereka sangat mirip.
Ain Soph = Dalam doktrin Kabala, merupakan sumber tak terbatas dari Tuhan. = Secara pengalaman, merupakan wilayah ketidakterbatasan, kedalaman, dan rasa takut yang dialami individu sebelum mencapai kesatuan.
Karana = Lapisan penyebab, kondisi benih yang belum terdiferensiasi. = Secara pengalaman, merupakan wilayah potensial gelap tempat individu berada tepat sebelum terdisintegrasi.
Penjaga Gerbang = Pintu gerbang menuju dunia spiritual. = Manifestasi dari ketakutan, bayangan, dan bagian-bagian diri yang belum terintegrasi.
Ketiga hal ini memiliki kesamaan sebagai berikut:
Tampak berada di luar individu, Namun sebenarnya terkait dengan dasar dari individu tersebut.
Menimbulkan rasa takut, Tetapi bukanlah kejahatan semata.
Belum sepenuhnya terstruktur, Tetapi tidak berarti tidak bermakna.
Muncul tepat sebelum kesatuan, Tetapi bukan merupakan kesatuan itu sendiri.
Oleh karena itu, dari sudut pandang mistisisme komparatif,
Ain Soph ≈ Kālana ≈ Jurang yang bertugas sebagai penjaga.
dan dapat dipandang seperti itu.
Namun, ini bukanlah identifikasi yang ketat berdasarkan literatur, melainkan sebuah korelasi berdasarkan pengalaman pelatihan.
17. Tanggapan dari Ketel, Ananda, Kokumaru, dan Buddhi.
Korelasi antara bagian atas Sephirot dan elemen Vedanta Yoga dapat dilihat sebagai berikut, yang terkesan cukup alami.
Keter ≈ Ānanda ≈ Mahkota yang berada di lapisan penyebab pertama. ≈ Kepuasan yang belum terdiferensiasi. ≈ Kehendak fundamental.
Kokumaru ≈ Intuisi Buddha. ≈ Benih kebijaksanaan.
Bināru ≈ Pemahaman dan strukturisasi oleh Buddha. ≈ Wadah untuk membentuk kebijaksanaan.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah, jika kita mengaitkan "Kokuma" secara eksklusif dengan seluruh wilayah "Buddi", maka cakupannya akan menjadi terlalu sempit.
Untuk Buddy,
- Intuisi
- Penilaian
- Identifikasi
- Pemahaman
- Keputusan
Berisi.
Oleh karena itu,
Kokumar ≈ Aspek intuitif Buddhisme Binar ≈ Aspek terstruktur Buddhisme
Ini lebih akurat untuk dilihat.
Selain itu, ketenangan (ketera) mirip dengan ananda, tetapi bukan hanya kebahagiaan semata.
Keter memiliki sifat-sifat seperti kehendak fundamental, arah pertama, dan titik yang akan muncul.
Oleh karena itu,
Keter ≈ Ananda + Kehendak Asal.
Lebih baik untuk melihatnya seperti itu.
18. Tabel Respon Akhir.
18.1 Korespondensi dengan Metafisika
Ain Soph ≈ Nilguna Brahman ≈ Sumber tak terbatas yang melampaui atribut
Sephirot ≈ Fungsi ilahi Ishvara ≈ Ekspansi tatanan kosmik
Keter ≈ Manifestasi pertama dari lapisan penyebab ≈ Ananda + Kehendak primordial
Kokumar ≈ Pengetahuan intuitif ≈ Inspirasi Buddha
Binah ≈ Pemahaman dan strukturisasi ≈ Aspek analitis dan reseptif Buddha
Merkavah ≈ Dunia fenomena ≈ Stula Sharira
18.2 Respons terhadap pengalaman spiritual/meditasi.
アイン・ソフ ≈ Sebelum keKesatuan, batas tak terbatas, kedalaman, dan ketakutan.
カーラナ ≈ Keadaan belum terbedakan secara kausal. ≈ Kondisi seperti benih laten. ≈ Lapisan penyebab gelap sebelum disintegrasi ego.
Penjaga gerbang ≈ Manifestasi dari bayangan diri, ketakutan, dan bagian-bagian yang tidak terintegrasi.
Keterorinan kekacauan ≈ Resistensi terhadap penghilangan diri yang dirasakan oleh individu sebelum mencapai keKesatuan.
KeKesatuan ≈ Keberadaan non-terpisah yang terbuka setelah melampaui ketakutan.
Diri Sejati / Brahman ≈ Yang pada akhirnya tetap ada. ≈ Esensi dari diri sendiri.
19. Diagram keseluruhan
19.1 Diagram Kabala
Ain Soph ↓ Cahaya Tak Terhingga ↓ Keter ↓ Kokhmah / Binah ↓ Chessed / Geburah ↓ Tiphereth ↓ Netzach / Hod ↓ Yesod ↓ Malkuth
Ini adalah gambar yang menunjukkan bagaimana keilahian muncul ke dunia, dari atas ke bawah.
19.2 Diagramatisasi Vedanta dan Diskriminatif.
Tubuh kasar / Sturha ↓ Pikiran, perasaan, dan prana / Sukshma ↓ Manas ↓ Buddhi ↓ Ananda ↓ Karana ↓ Atman / Brahman
Ini adalah diagram yang menunjukkan proses, dari bawah ke atas, untuk mengidentifikasi hal-hal yang bukan diri sendiri dan kembali pada jati diri sejati.
19.3 Diagramatisasi Pengalaman Spiritual
Diri Sehari-hari ↓ Pikiran, Emosi, Pemikiran ↓ Pengetahuan Identifikasi / Buddhi ↓ Kepuasan Sebab / Ananda ↓ Lapisan Penyebab / Karana ↓ Kekacauan, Ketakutan, Kematian, Kedalaman, Penjaga Gerbang ↓ Kesatuan / Diri Sejati / Brahman
Dalam diagram ini, Ain Soph muncul bukan sebagai titik akhir itu sendiri, melainkan sebagai kedalaman yang ada sebelum kesatuan.
20. Kesimpulan Akhir
Ain Soph, Brahman, Karana, Sephirah, Order, dan Oneness, jika disederhanakan dengan korespondensi satu-ke-satu, akan menimbulkan kebingungan.
Yang penting adalah memisahkan sumbu perbandingan.
20.1 Secara Literatur dan Filosofis
Ayn Sof ≈ Nilguna Brahman.
Ini bisa dianggap sebagai sesuatu yang masuk akal sampai batas tertentu.
Keduanya adalah sumber yang tak terbatas, tanpa atribut, dan melampaui bahasa.
20.2 Pengalaman Meditasi
Ain Soph ≈ Kālana ≈ Jurang yang bertugas sebagai penjaga.
Pernyataan ini lebih sesuai dengan proses internal yang sebenarnya.
Sebelum mencapai kebersamaan, individu seringkali menghadapi kekacauan, ketakutan, kematian, perasaan menghancurkan diri sendiri, jurang yang dalam, dan penjaga.
Sebagai lapisan batas ini, Ain Soph, Karana, dan penjaga gerbang memiliki kesamaan.
20.3 Posisi "Order"
Dalam perspektif Kabbalah,
Di hadapan ketertiban, terdapat keabadian yang melampaui batas ketertiban.
Sepertinya demikian.
Di sisi lain, dari sudut pandang Vedanta,
Bahkan hal-hal yang tampak melampaui keteraturan, sebenarnya berada dalam suatu keteraturan yang lebih mendalam.
Sepertinya demikian.
Oleh karena itu, dari sudut pandang Vedanta, sesuatu yang benar-benar "tidak beraturan" atau "rusak total" sulit untuk terjadi.
Bahkan hal-hal yang tampak tidak teratur, sebenarnya mengandung keteraturan yang lebih dalam.
20.4 Kesimpulan
Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkannya sebagai berikut:
Secara metafisik: Ain Soph ≒ Nirguna Brahman
Dalam pengalaman spiritual: Ain Soph ≒ Karana ≒ Kedalaman yang bersifat penjaga Pada bagian atas Sephirot: Keter ≒ Ananda + Kehendak Asal Chokmah ≒ Aspek intuitif Buddha Binah ≒ Aspek terstruktur Buddha
Secara Vedanta: Bahkan hal-hal yang tampak tidak berurutan, sebenarnya berada dalam Order yang lebih mendalam.
Dalam konsep kebersatuan: Setelah melampaui batas ketakutan, realitas non-pemisahan akan terbuka.
Oleh karena itu, koreksi yang paling penting adalah sebagai berikut:
Ain Soph tidak boleh disederhanakan sebagai "kesatuan itu sendiri," melainkan, dari sudut pandang pengalaman spiritual, dapat dilihat sebagai "lapisan batas ketidakterbatasan, kedalaman, dan kengerian yang muncul sebelum kesatuan."
Dalam arti ini, Ain Soph memiliki kemiripan dengan Karana atau penjaga gerbang.
Namun, secara metafisik, masih ada aspek yang mirip dengan Nirguna Brahman.
Dengan mempertahankan dualitas ini, hubungan antara Kabala, Vedanta, Yoga, Ramana Maharshi, dan Teosofi menjadi lebih mudah dipahami.