Ketika diri sejati (higher self) terhubung dengan bagian dalam dada, perasaan syukur yang meluap-luap muncul. Itu adalah perasaan "terima kasih" yang sederhana. Ruang, terutama bagian dalam dada, dipenuhi dengan cinta atau kehangatan, dan perasaan penuh ini sendiri adalah bentuk syukur.
Awalnya, perasaan syukur yang meluap-luap ini dikenali sebagai diri sejati (higher self). Namun, terutama pada awalnya, hal ini terasa pasif. Perasaan itu muncul dari dalam dada, memenuhi, dan syukur muncul secara alami. Meskipun merupakan fenomena spontan, hal itu disertai dengan perasaan "muncul", sehingga terasa pasif. Meskipun munculnya itu sendiri bersifat spontan, diri (ego) menerima perasaan cinta atau syukur yang meluap-luap itu dan hanya mengenali kata-kata "terima kasih", "terima kasih", "terima kasih".
Di sana, hanya ada rasa syukur. "Ah, terima kasih." Hanya itu yang ada.
Selama beberapa waktu, hanya ada keadaan syukur. Ketika keadaan syukur menjadi stabil, ada langkah maju dalam penggabungan antara rasa syukur dan diri (ego). Diri (ego) dibungkus oleh rasa syukur, dan diri (ego) dikenali sebagai inti dari pusat syukur diri sejati (higher self).
Ketika berbicara tentang diri (ego, ahamkara), hal itu sering dianggap sebagai sesuatu yang buruk dalam dunia spiritual dan agama. Namun, pada kenyataannya, ketika diri sejati (higher self) membungkus diri (ego), kita menyadari bahwa diri (ego) adalah sesuatu yang diperlukan sebagai inti dari diri kita.
Tentu saja, diri adalah ilusi belaka. Ketika kita bereinkarnasi atau bergabung dengan jiwa kelompok, diri dapat direkonstruksi. Oleh karena itu, diri yang sebenarnya adalah diri sejati (higher self), jiwa kelompok, atau Atman, yang merupakan entitas yang lebih tinggi. Namun, bagi diri kita saat ini sebagai jiwa individu, inti dari diri kita adalah diri (ego).
Setelah terhubung dengan diri sejati (higher self), awalnya saya berpikir bahwa diri sejati (higher self) akan mengambil alih dan diri (ego) akan menghilang. Namun, ternyata tidak selalu seperti itu. Memang ada aspek di mana diri (ego) menghilang, dan semakin banyak hal yang diserahkan kepada diri sejati (higher self) (atau, secara sederhana, kepada Tuhan). Namun, ini bukan berarti diri (ego) menghilang sepenuhnya, tetapi diri (ego) itu sendiri menjadi murni, dan diri (ego) memainkan peran penting sebagai inti.
Dalam menjalani kehidupan di bumi ini, ego sangat penting, dan ego tidak akan pernah hilang, melainkan hanya akan dimurnikan. Kemudian, tahapan berikutnya akan datang.
■ Dari tahapan menerima cinta dan rasa syukur Tuhan, menuju tahapan memberikan rasa syukur secara aktif.
Bagian ini mungkin sulit dipahami, jadi saya akan menjelaskannya secara bertahap.
□ Tahap Pertama
Awalnya, ego berada dalam keadaan pasif, menerima limpahan rasa syukur dan cinta dari Higher Self yang berada di dalam hati.
Ketika keadaan ini stabil, tahapan berikutnya akan datang.
□ Tahap Kedua
Ketika ego dipenuhi sepenuhnya oleh rasa syukur dan cinta dari Higher Self, ego akan dimurnikan, dan Higher Self akan menjadi lebih dominan. Higher Self akan berkembang. Pada saat itu, ego akan tetap berada di dalam Higher Self sebagai inti.
Meskipun pada awalnya, baik ego maupun Higher Self memiliki rasa syukur yang berada di tempat yang sama secara fisik dan tiga dimensi, sehingga pada dasarnya tidak terpisah, pada tahap pertama, masih ada sedikit pemisahan secara sensorik, seolah-olah ego dan Higher Self belum sepenuhnya menyatu, dan masih ada pemisahan antara pihak yang menerima (ego) dan pihak yang memberikan (Higher Self).
Pada tahap kedua, pemisahan antara ego dan rasa syukur Higher Self hampir tidak ada, dan ego akan stabil sebagai inti dari Higher Self.
Ego yang dimaksud di sini adalah ego yang telah dimurnikan, yang percaya pada Higher Self, dan selalu menerima cinta dan rasa syukur dari Higher Self. Ego ini merasa terpenuhi dan selalu bersyukur atas cinta Higher Self atau cinta Tuhan.
Pada tahap kedua ini, kita akan mengetahui apa itu rasa syukur kepada Tuhan.
Pada tahap pertama, kita (ego) menerima cinta, atau rasa syukur dari Higher Self, dan secara pasif berkata, "Terima kasih."
Pada tahap kedua, ego menjadi aktif, dan bersamaan dengan cinta atau rasa syukur dari Higher Self, kita menyadari bahwa segala sesuatu di sekitar kita, yaitu Tuhan, dan kita bersyukur kepada Tuhan di sekitar kita, yaitu kita bersyukur dari sisi ego kepada Tuhan, dalam tahap aktif.
Mungkin saja, dalam agama Kristen dan berbagai agama lainnya, ketika dikatakan "mari kita bersyukur kepada Tuhan," itu merujuk pada tahapan ini.
Menerima cinta Tuhan pada tahap pertama, meskipun mungkin sulit, tetapi ketika kita mencapai tahap kedua ini, rasanya juga sulit untuk dijelaskan.
Seperti yang dikatakan agama, "bercintailah" atau "bersyukurlah" terdengar mudah, tetapi pada kenyataannya, jika kita tidak terhubung dengan diri sejati (atau Atman, atau istilah lainnya), kita tidak akan memahami rasa syukur atau cinta Tuhan. Ini terasa seperti tantangan yang berat.
■ Tambahan
Namun, tidak perlu terlalu pesimis. Bahkan jika kita tidak memahami hal-hal yang rumit seperti ini, terutama di Jepang, khususnya bagi wanita, mereka secara alami memiliki pengetahuan tentang cinta dan rasa syukur, dan mereka menjalani kehidupan sehari-hari terhubung dengan Tuhan. Mungkin tidak perlu terlalu khawatir tentang hal ini. Meskipun ada logika di baliknya, bagi wanita yang memahami cinta dan rasa syukur, hal-hal seperti ini mungkin terdengar seperti hal yang terlalu mendasar, sesuatu yang sudah seharusnya.