Tuhan menciptakan dunia ini dan sengaja menetapkan batasan waktu, seolah-olah bermain permainan yang terikat pada sumbu waktu, karena Tuhan ingin "memahami".
Pada dasarnya, pemikiran yang bebas dan pemahaman yang akurat seringkali sulit dicapai. Intuisi seringkali tidak sesuai dengan realitas. Di sisi lain, dengan menciptakan batasan waktu dan batasan fisik tiga dimensi, dapat diberikan semacam batasan pada pemikiran yang bebas dan sesuai dengan intuisi. Hal ini dilakukan untuk mencegah situasi di mana hanya dengan pikiran, semuanya menjadi tidak bermakna dan tidak teratur, sehingga "pemahaman" tidak dapat berkembang. Dengan memberikan batasan fisik dan temporal tiga dimensi, tercipta keteraturan dan upaya dilakukan untuk mempromosikan "pemahaman".
Dengan menciptakan garis waktu dan batasan fisik tiga dimensi, pemikiran bebas astral dibatasi, dan dengan demikian, pemahaman tentang kebenaran dunia diperdalam. Ini adalah tentang pemahaman pikiran (baik secara kosmik maupun pribadi). Hukum fisika bukanlah aturan yang ditetapkan hanya karena nyaman, tetapi pada kenyataannya, tujuan Tuhan adalah memahami alam semesta ini, dan hukum fisika hanyalah batasan untuk mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itu, melihat sekilas masa depan bukanlah hal yang utama, dan melihat itu sendiri tidak terlalu berarti. Dari sudut pandang Tuhan, itu seperti "Ah, sebelumnya gagal. Apakah kali ini akan berhasil...?" Tuhan melihat dari atas dengan cinta, dan pada saat itu, melihat masa depan dan masa lalu.
Jika gagal, mungkin akan diulang, atau jika memang tidak ada harapan, semuanya akan ditinjau kembali dari awal. Atau, mungkin juga diterima begitu saja. Semuanya tergantung pada kehendak Tuhan.
Namun, Tuhan tidak tertarik pada ramalan masa depan seperti yang dipikirkan oleh manusia. Bahkan, dari sudut pandang Tuhan, hal-hal perlu dilihat satu per satu agar dapat dipahami dengan baik, yang pada dasarnya sama dengan manusia. Meskipun memiliki kekuatan untuk menciptakan garis waktu, dalam hal kognisi dan pemahaman, ada aspek di mana ia bergantung pada pemahaman kesadaran manusia yang hidup di bumi.
Manusia dapat dikatakan sebagai bagian dari jiwa Tuhan. Melalui kognisi manusia, hubungan terjalin dengan Tuhan, dan Tuhan merasakan kegembiraan yang menyatu dengan manusia melalui pemahaman tersebut.
Ketika seseorang memahami sesuatu, ada kegembiraan dan keharuan, bukan hanya karena orang itu sendiri yang merasa senang, tetapi secara harfiah, Tuhan juga merasa senang. Tujuan Tuhan adalah agar pemahaman baru muncul dan dipahami, dan orang yang melakukan hal itu seharusnya dicintai oleh Tuhan.