Belakangan ini, kecenderungan untuk hanya mengungkapkan rasa terima kasih sering terjadi, tetapi hal itu dapat menyebabkan kesalahpahaman. Rasa terima kasih seharusnya bukan sekadar alasan atau pembenaran atas suatu tindakan atau kebiasaan, melainkan harus menjadi sebuah perbuatan yang tulus.
Dalam meditasi, penting untuk "merasakan" rasa syukur, tetapi ini adalah kondisi yang berbeda dari moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran tertentu, mungkin ada penyederhanaan seperti "cukup bersyukur," tetapi itu hanyalah pandangan tentang moralitas dan tidak menyangkal apa yang saya sampaikan.
Yang ingin saya tekankan adalah bahwa rasa syukur yang dirasakan selama meditasi harus disertai dengan tindakan nyata, bukan hanya sekadar ucapan atau perilaku yang dangkal. Kesalahpahaman dapat terjadi karena kata-kata. Jika kata "terima kasih" menutupi moralitas sehari-hari dan membuat kita kehilangan makna dari tindakan sebenarnya, maka itu menjadi tidak berarti.
Oleh karena itu, mungkin ada situasi di mana rasa syukur bahkan tidak diperlukan. Namun, karena kehebatannya, rasa syukur memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu. Meskipun demikian, terkadang ada situasi di mana hanya dengan mengungkapkan rasa terima kasih saja sudah lebih baik, meskipun ajaran tertentu mungkin tidak cukup untuk mencapai pencerahan.
Seperti itu, rasa syukur memang hal yang baik, tetapi bukan berarti hanya dengan bersyukur saja sudah cukup. Bersyukur tidak serta merta membawa pada pencerahan, seperti yang dikatakan oleh beberapa aliran tertentu. Sebenarnya, titik awal yang harus dicapai adalah keadaan ketenangan, dan setelahnya, perasaan syukur akan muncul.
Oleh karena itu, jika berbicara tentang rasa syukur tanpa memiliki dasar berupa keadaan ketenangan, hal tersebut mungkin tidak sia-sia sepenuhnya, tetapi efeknya cenderung sulit untuk dirasakan. Selain itu, tanpa fondasi yang cukup, bahkan mengucapkan kata-kata syukur saja bisa terasa menyakitkan. Dibutuhkan kekuatan mental untuk mengatasi kesulitan tersebut, tetapi lebih baik jika mengambil jalan yang lebih mudah agar tidak merasa putus asa.
Dalam praktiknya, ketika rasa syukur muncul melalui meditasi, hal itu akan merembet ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga seseorang dapat merasakan dan mengungkapkan rasa syukur terhadap hal-hal kecil dalam keseharian. Namun, ini bukanlah "tindakan" yang disengaja, melainkan sebuah "keadaan". Jadi, meskipun berada dalam keadaan bersyukur, seseorang tidak secara sengaja berusaha untuk merasa bersyukur, atau karena ada alasan tertentu. Sebaliknya, perasaan syukur muncul begitu saja, dan kemudian terpancar pada situasi di hadapan kita. Oleh karena itu, ketika hal ini terjadi, rasa syukur bukanlah tindakan, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh beberapa aliran yang mengatakan "mari kita bersyukur". Namun, jika ada kesempatan, seseorang akan mengungkapkan rasa syukur. Jadi, meskipun bersyukur adalah sesuatu yang dilakukan, tetapi perasaan syukur muncul begitu saja tanpa perlu disengaja atau karena adanya alasan tertentu. Jika hal ini dianggap sebagai tindakan, maka bisa dikatakan demikian, tetapi jika dianggap sebagai keadaan, maka juga mungkin benar.
Dengan kata lain, ada suatu kondisi di mana rasa syukur muncul secara alami tanpa perlu disengaga-gagai. Sebelum mencapai kondisi tersebut, seseorang dapat mencoba untuk merasa bersyukur dengan sengaja atau karena alasan tertentu. Namun, penting untuk memahami bahwa terdapat berbagai jenis "syukur", dan hal ini akan membantu menghindari kesalahpahaman.