Jika trauma dapat diatasi dan didasarkan pada fakta, maka dengan pemahaman yang tepat, trauma tersebut akan hilang dengan cepat. Namun, seringkali trauma disebabkan oleh gambaran atau imajinasi yang tidak berdasarkan fakta, dan tertanam dalam diri seperti reaksi otomatis. Dalam kasus ini, hanya dengan "menghapusnya" saja mungkin tidak cukup.
Ada banyak orang yang menderita karena trauma yang sebenarnya tidak ada, yang hanya berupa gambaran atau imajinasi.
Hal ini bisa terjadi karena seseorang menanamkan trauma tersebut pada dirinya sendiri, atau karena ditanamkan oleh orang lain.
Dalam kedua kasus tersebut, trauma tersebut tidak penting dan hanya menjadi penghalang, jadi sebaiknya dihilangkan.
Jika trauma berasal dari bagian tubuh tertentu, jika seseorang dapat membayangkan trauma tersebut dan membuatnya menjadi gambaran atau sensasi nyata di dalam pikiran, maka dengan sengaja "menariknya" keluar seperti menggunakan kekuatan aura, trauma tersebut dapat diatasi.
Metode ini sama dengan cara menghilangkan roh jahat yang melekat pada seseorang. Metode ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi.
Mungkin saja seseorang sengaja menanamkan trauma pada dirinya sendiri dengan tujuan tertentu. Alasan di balik hal ini bervariasi, sehingga sulit untuk digeneralisasi. Salah satu contohnya adalah, seseorang yang terlalu terobsesi dengan seks dan mudah tertarik pada wanita cantik, mungkin menanamkan "trauma palsu" terhadap wanita untuk mencegah dirinya melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan sebelum lahir, seperti latihan spiritual atau mencapai tujuan tertentu. Hal ini terutama digunakan untuk "menghindari" hal-hal tersebut.
Trauma tidak selalu perlu dipahami.
Dalam bisnis, ada kalanya seseorang merasa jijik dan mengalami pemicu trauma ketika orang dengan energi yang sebaiknya dihindari mendekat.Pada dasarnya, memang lebih baik untuk berpikir dengan matang dan menghindarinya. Namun, terkadang seseorang bisa terjebak dalam pola tertentu dan tidak bisa keluar, sehingga secara tidak sadar menciptakan trauma sendiri.
Di sisi lain, ada juga trauma yang ditanamkan oleh orang lain, yang seringkali merupakan bentuk serangan. Ini dilakukan untuk menjatuhkan orang lain, misalnya untuk menyingkirkan pesaing dalam percintaan. Ini bisa dianggap sebagai kutukan. Kutukan ini tidak selalu ditujukan langsung kepada target, tetapi bisa mengambang seperti "awan" di sekitar mereka. Seseorang bisa secara tidak sengaja "menangkap" trauma ini saat berjalan di jalan, dan trauma tersebut mungkin tidak ada hubungannya dengan diri sendiri. Dalam kasus seperti itu, jika memungkinkan, trauma tersebut dapat dihilangkan dengan energi atau "didorong" menjauh.
Dalam banyak kasus, trauma tidak selalu didasarkan pada fakta. Bahkan, trauma yang disebabkan oleh kutukan dari orang lain seringkali merupakan akibat dari kesalahpahaman, kecemburuan, atau hal-hal yang tidak berdasar. Oleh karena itu, tidak selalu perlu untuk menangani trauma dengan serius.
Jika trauma muncul sebagai akibat dari perbuatan seseorang di masa lalu, maka sebaiknya karma tersebut diselesaikan. Namun, seringkali trauma tersebut tidak berdasar atau tidak ada hubungannya dengan diri sendiri. Oleh karena itu, setelah mengamati jenis trauma, jika seseorang yakin bahwa trauma tersebut tidak ada hubungannya dengan dirinya, maka trauma tersebut dapat diabaikan atau dibersihkan. Tidak perlu berusaha untuk "memahami" semuanya dengan serius, karena trauma bisa datang secara tiba-tiba dan aneh. Jika seseorang merasa bahwa trauma tersebut tidak ada hubungannya dengan dirinya (meskipun terkadang ada hubungannya), maka tidak perlu terlalu memikirkannya atau berusaha memahaminya.
Banyak orang di bidang spiritual yang mengatakan bahwa "trauma dapat diatasi dengan pemahaman." Namun, ini hanya berlaku jika trauma tersebut disebabkan oleh karma seseorang. Dalam masyarakat ini, ada banyak trauma yang tidak ada hubungannya dengan diri sendiri, sehingga tidak perlu terlibat dalam hal-hal seperti itu.
Dalam bidang spiritual, seringkali dikatakan bahwa "trauma berasal dari kehidupan lampau," tetapi meskipun ada kasus seperti itu, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan, "trauma yang diterima," "trauma yang dipaksakan," atau "trauma yang datang sebagai serangan (misalnya, karena dimarahi atau dikutuk)" jauh lebih umum. Bahkan jika seseorang menerima cerita-cerita spiritual semacam itu dan menganggap semuanya sebagai masalah pribadi, pada dasarnya tidak ada dasar untuk menghubatkan trauma tersebut dengan kehidupan lampau.
Oleh karena itu, untuk trauma yang tidak memiliki dasar, satu-satunya cara adalah dengan membuangnya atau menghilangkannya.