Apakah ada tempat yang membuat Anda khawatir?
Saat bepergian, ada beberapa tempat yang entah mengapa menarik perhatian.
Ini bukan tempat wisata yang terkenal.
Bahkan tidak banyak disebutkan dalam buku panduan wisata.
Namun, hanya bagian itu yang terasa sangat mencolok.
Saya ingin berjalan kaki lagi.
Saya ingin mengambil foto.
Nanti saya akan mengingatnya.
Tempat seperti itu ada.
Tidak perlu langsung dijadikan tempat suci.
Jika ada tempat yang menarik perhatian, terkadang kita cenderung memberikan makna khusus pada tempat tersebut.
Mungkin tempat ini adalah tanah suci bagiku.
Mungkin saya dipanggil oleh sesuatu.
Mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu sejak dulu.
Merasa seperti itu sebenarnya bukanlah hal yang buruk.
Namun, saya rasa tidak perlu langsung menjadikannya tempat suci.
Kata "tempat suci" adalah kata yang kuat.
Jika menggunakan kata-kata yang kuat, pandangan terhadap tempat tersebut juga akan menjadi sedikit kaku.
Pertama, lihatlah seperti biasa.
Jika Anda merasa tertarik, cobalah untuk melihatnya secara normal terlebih dahulu.
Jalan seperti apa itu?
Bau apa yang tercium?
Apakah lalu lintas pejalan kaki ramai?
Apakah tubuh Anda merasa tenang, atau justru tegang?
Apakah Anda ingin pergi lagi, atau apakah Anda ingin sedikit menjauh?
Melihat hal-hal konkret seperti itu saja sudah cukup untuk memulai hubungan dengan tempat tersebut.
Memberi makna khusus, itu bisa dilakukan nanti saja.
Tidak perlu dipasang.
Jangan terburu-buru dalam menentukan lokasi.
Setiap lokasi memiliki kecepatan yang berbeda.
Ada tempat yang bisa dipahami dalam sekali waktu, tetapi ada juga tempat yang membutuhkan bertahun-tahun untuk benar-benar dimengerti.
Tempat yang menarik, jangan langsung dijadikan tempat suci.
Itu bukanlah meremehkan tempat tersebut.
Sebaliknya, sikap yang lebih baik adalah untuk tidak terburu-buru memberikan komentar dan mencoba melihat sesuatu dengan cara yang lebih mendalam.
Menurut saya, ruang kosong yang ada di catatan perjalanan Wayanata juga terasa pas seperti itu.