Bukan Jawaban yang Selesai
Wayanata lebih seperti peta, bukan jawaban yang sudah selesai.
Namun, ini bukanlah peta wisata yang dicetak rapi.
Masih dalam proses penulisan.
Ada garis-garis yang ditarik di beberapa tempat.
Ada juga bagian yang masih kosong.
Mungkin ada tempat-tempat yang akan diberi nama nanti.
Impian, perjalanan, meditasi, catatan, fragmen pandangan dunia.
Semua itu sedikit demi sedikit ditempatkan di atas peta.
Saat pertama kali melihat Wayanata, sebaiknya Anda menerimanya sebagai sesuatu seperti itu.
Ini bukan penjelasan yang sudah selesai, melainkan peta yang akan Anda baca selanjutnya.
Tidak Perlu Membaca Semuanya Sekaligus
Ketika melihat peta besar, awalnya mungkin sulit untuk mengetahui harus mulai dari mana.
Ada gunung. Ada sungai. Ada jalan. Ada nama tempat yang tidak dikenal. Arti tanda-tanda itu pun belum diketahui.
Wayanata juga sedikit mirip dengan itu.
Ada catatan mimpi. Ada catatan perjalanan. Ada catatan meditasi. Ada sesuatu seperti dunia malaikat. Ada pula dunia yang memiliki aliran waktu berbeda. Ada juga tema besar yang berkaitan dengan masa depan.
Jika Anda mencoba membaca semuanya sekaligus dari awal, mungkin akan terasa sulit.
Oleh karena itu, mulailah dari pintu masuk kecil terlebih dahulu.
Satu Per Satu Pintu Masuk Kecil
Pintu masuk Wayanata tidak hanya berupa pintu besar.
Terkadang, saat berjalan-jalan, pikiran menjadi jernih. Hanya dengan memperhatikan napas, Anda bisa merasa sedikit lebih tenang. Detail aneh dalam mimpi yang entah mengapa sulit dilupakan. Suasana tempat di suatu perjalanan dapat membekas di hati kemudian. Jangan mengabaikan perasaan tidak nyaman. Jangan langsung memberikan makna pada hal-hal yang terasa aneh.
Ada banyak pintu masuk kecil seperti itu.
Masing-masing mungkin terlihat seperti cerita ringan.
Namun, jika semuanya sedikit demi sedikit bertumpuk, peta di baliknya akan mulai terlihat.
Sebelum memasuki dunia pandangan yang luas, sebaiknya Anda menjelajahi pintu masuk kecil terlebih dahulu.
Itulah cara yang lebih alami.
Peta Berkembang Seiring Waktu
Peta Wayanata bukanlah produk jadi yang statis.
Saat membaca catatan-catatan lama, terkadang Anda akan menemukan garis-garis baru. Hal-hal yang dulunya terlihat terpisah, mungkin saling berhubungan kemudian. Sebaliknya, ada juga hal-hal yang awalnya dianggap mirip, tetapi ternyata lebih baik dipisah.
Peta itu berkembang sedikit demi sedikit.
Oleh karena itu, tidak perlu menghafal jawaban yang benar pada tahap awal.
Pertanyaan seperti, "Apa hubungannya dengan ini?"
Tempat ini, apakah akan muncul lagi nanti?
Lihatlah dengan cara seperti itu.
Tidak perlu menerimanya terburu-buru.
Tidak perlu memahaminya terburu-buru.
Menuju Dunia yang Belum Bernama
Beberapa hal di Wayanata sudah memiliki nama.
Ada juga beberapa hal yang hanya memiliki nama sementara.
Bahkan, ada beberapa hal yang mungkin lebih baik jika tidak diberi nama sama sekali.
Namun, pasti ada sesuatu yang terasa dekat dengan nama-nama itu.
Tempat dalam mimpi. Pemandangan saat bepergian. Sensasi saat bermeditasi. Pertanyaan yang terus muncul kembali. Dunia yang terlihat di balik catatan.
Secara bertahap, kita akan menelusuri hal-hal tersebut.
Pengantar Wayanata adalah peta awal untuk itu.
Ini bukan penjelasan lengkap tentang semuanya. Ini adalah langkah pertama untuk memulai perjalanan. Pilihlah satu pintu masuk kecil terlebih dahulu. Di baliknya, terdapat dunia yang belum bernama.